Nagara Dana Rakca.

Desember 23, 2011

Tanyakan apa yang telah engkau berikan pada negara, dan apa yang dilakukan negara atas apa yang telah engkau berikan.

Pengumuman Departemen Keuangan atas penerimaan pajak yang mencapai 900 triliun lebih tahun ini, yang melonjak hampir 300% dibanding tahun 2005 lalu, sangatlah menarik.

Entah mengapa perbandingannya dengan tahun 2005, ini juga menarik.

Tetapi baiklah itu kabar baik bahwa ada yang naik diantara yang turun selama ini. Peringkat investasi negara kita juga naik. Artinya menurut Fitch Rattings, , lembaga pemeringkat itu, Indonesia menjadi negara layak investasi dengan pertumbuhan bagus (meskipun tahun ini baru mencapai 6% dari target 7%), rasio penerimaan negara dengan kewajiban utangnya semakin sempit dan indikator lain menunjang pemringakatan menjadi BBB- untuk foreign currency long-term senior debt, dan utang jangka pendek dalam mata uang asing menjadi F3, saat ini.

Badan pemeringkat lain seperti Standard and Poor’s yang memberikan peringkat pada obligasi negara diharapkan juga akan mengikuti Fitch Rattings. Bank Indonesia dimata Standard and Poor’s dalam status Positive naik dari Stable. (Peringkat terbaik obligasi negara adalah AAA, yang saat ini dipegang salah satunya Inggris meskipun Uni Eropa sedang ancur-ancuran. Amerika saja, peringkatnya sedang diturunkan menjadi AA+ yang artinya sudah tidak dijamin lagi keamanan berinvestasi di sana.)

Akibatnya, pasar modal kita banjir dana dari luar negeri, menurut harian Investor Daily. Nilainya bisa mencapai 2,68 miliar dollar.  Memang jika dana itu masih dana short-term yang diharapkan jika indikator ekonomi semakin baik akan meningkatkan juga foreign direct investation ke negara kita. Intinya, berita makro ekonomi kita akhir tahun 2011 ini dipenuhi kabar bagus dan optimisme.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dana-dana itu bisa menyelesaikan masalah-masalah seperti gejolak di Papua, Kasus kakap KPK, Tragedi kemanusiaan Mesuji, Lumpur Lapindo, Jembatan Tenggarong, Korupsi SEA Games, perkosaan di Angkutan Kota, banjir di Bandung,  gedung SD ambruk di Jakarta, Tasikmalaya, Maluku dan lain-lain, penusukan di diskotik dan halte, hingga harga cabai yang melambung tinggi dan mundurnya RD dari Timnas?

Mungkin orang bilang itu pertanyaan konyol. Itu makro, ini mikro, Bung! Ditambah ada bumbu politik lagi. Tapi rakyat tak mungkin pusing-pusing dengan angka-angka, seperti yang susah payah saya tulis di awal-awal tulisan ini.

Tapi, melihat pengumuman Departemen Keuangan di Kompas 20 Desember lalu, sepertinya ingin mengajak kita tersenyum menatap esok hari bangsa kita.

Bicara soal pajak yang berhasil dikumpulkan pemerintah dengan upaya keras sejak Menteri Sri Mulyani hingga sekarang, menunjukkan bahwa negara ini benar-benar bergantung pada keringat penduduknya. Tentusaja ini mengandung pesan kuat untuk menempatkan orang Indonesia dari yang termiskin menjadi tujuan proyek-proyek negara. Sebab telinga saya sangat sering mendengar orang yang mengeluhkan pajak yang dibayar seolah tidak ada hasilnya bagi mereka.

Saya jadi ingat cerita seorang atasan yang banyak berhubungan dengan orang Jepang. Setelah bencana tsunami awal tahun 2011 ini, ditambah krisis nuklir yang berkepanjangan, warga jepang saat ini dibebani pajak hingga 48%! Ajaibnya, kata  atasan saya tersebut, si orang Jepang ini tidak mengeluh bahkan mengatakan seandainya rumah harus diambil untuk negara, dia akan memberikannya.

Wah, sebuah kenyataan yang absurd diteropong dari kota ini. Manakala petugas pajak mengemplang uang setoran kita, perusahaan besar alpa membayar pajak hingga triliunan rupiah dan dibiarkan, sementara pembangunan infrastruktur selalu lebih besar anggaran dari nilai faktualnya, sepertinya budaya rela membayar pajak masih harus diperjuangkan. Kalau itu terjadi, jangan-jangan penerimaan pajak bisa beribu-ribu T. Triliun!***


Pendidikan

Januari 30, 2011

Sok tahu saja, saya sering bicara ke orang – dari kenalan saya sopir taksi, teman saya tukang reparasi, tukang sol sepatu, hingga penjaja roti keliling – mengatakan bahwa 50% masalah di Indonesia ini dapat diselesaikan jika pendidikan dilaksanakan dengan benar.

Bisa sederhana bisa juga tidak. Tapi apa yang ditunjukkan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, Butet Manurung dengan mengajar anak rimba, Johannes Surya dengan proyek olimpiade fisikanya, Anis Baswedan dengan Indonesia Mengajar menunjukkan sudut-sudut dunia pendidikan kita yang patut dibanggakan sekaligus patut dibenahi.

Baca entri selengkapnya »


Devaluasi Istilah

November 20, 2010

Tidak ada Pertemanan Abadi, yang ada adalah kepentingan Abadi, kata kritikus politik untuk para politisi dalam melakukan manuver-manuver. Kritik menyindir ini lama kelamaan karena diajarkan di bangku kuliah sebagai sebuah bahasan ‘fenomena‘ maka para lulusan universitas yang menjadi politisi sering mengutipnya. Akhirnya para politisi sendiri yang mengucapkannya sebagai sebuah pemakluman atas segala koalisi dan kaukus atau apapun namanya! Aneh sekali, cap miring sekarang menjadi sebuah keniscayaan yang dimaklumkan!

Baca entri selengkapnya »


Impian Rusia vs Impian Indonesia.

November 16, 2010

Judul di atas mungkin memang tidak terlalu tepat menggambarkan apa yang ingin ditulis berikut ini. Tetapi apa yang ditulis oleh majalah Bloomberg Businessweek edisi 5 – 11 Agustus 2010 mengenai Impian Rusia mengenai bagaimana mereka memandang sebuah “rumah” adalah sesuatu yang menyadarkan kita tentang sebuah nilai yang seringkali kita lupakan dan kita anggap sepele tetapi sesungguhnya memiliki nilai yang “tinggi” dan untuk mencapainya harus diperjuangkan dengan serius bahkan melalui lika-liku politik yang rumit.

Impian yang mereka maksud tidak lain adalah ingin membuat warga Rusia memiliki rumah mereka sendiri. Lho, apakah mereka selama ini tidak memilikinya? Benarkah Negara semaju mereka apalagi jika mengingat kedigdayaan Uni Sovyet dahulu, tinggal orang-orang yang tidak memiliki kediaman yang kita sebut rumah itu?

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.