Komunikasi yang Menghidupkan


Hidup kita dibungkus oleh komunikasi. Can’t live without. Tetapi ada yang lebih menyenangkan melihat komunikasi telah mengubah banyak orang menjadi pribadi yang mandiri, menolong dirinya sendiri dan survive dalam alun dan ombak hidup yang menuntut keterampilan menyiasatinya.

Cerita-cerita berikut bisa jadi bukan semata-mata karena keberhasilan komunikasi. Tetapi tak apalah … disambung-sambungkan sedikit. Selamat menikmati.

1. Komunikasi ala Ex Office Boy

Kenal dengan Gugi (bukan nama sebenarnya) saat ia jadi office boy di sebuah perusahaan computer. Umurnya yang masih belia, sekitar 20-an tahun dan wajahnya yang selalu optimis, menyiratkan sebuah keinginan maju yang luar biasa. Sebagai seorang OB, keingintahuannya cukup besar. Cara berkomunikasinya yang antusias sekarang telah mengantarkannya menjadi pemasar produk kredit dari sebuah bank asing yang terkenal. Dua tahun yang lalu ia harus menyalurkan lebih dari 4 Milyar Rupiah per bulan. Saat ini mungkin dia sudah menjadi manajer. Wallahu alam.

Baca 8 cerita lainnya.

2. Komunikasi ala Ibu Rumah Tangga agen asuransi

Dalam sebulan terakhir ada tiga ibu-ibu yang menawari asuransi. First time impression sang agen dan kemudahan product knowledge asuransi ternyata sangat berpengaruh bagi saya untuk memutuskan memilih produk asuransi.

Beberapa hari yang lalu saya memutuskan mengambil sebuah produk asuransi unit-link dengan jaminan life insurance. Begitu saja tanpa embel2 pendidikan atau apa. Sangat sederhana bisa diambil kapan saja nilai tunainya. Sesederhana cara ibu-ibu rumah tangga menjual produknya. Dua ibu yang lain menawarkan produknya yang njlimet susah saya pahami dengan semangat 45-nya ngga tahu kenapa saya lupakan illustrasinya. Yang satu lagi masih ragu-ragu dan belum paham ini itu-nya asuransi membuat saya ragu-ragu.

3. Komunikasi ala Luxindo

Siapa tak kenal Luxindo? Pasti masih ada. Ya, karena pemasar produk bermerek Lux di Indonesia ini tidak melakukan cara pemasaran konvensional. Mereka memasarkan produknya dengan direct-selling. Akibatnya, orang yang belum pernah bersentuhan dengan pemasar door-to-door Luxindo atau dari getok tular pasti belum tahu apa itu Lux dan Luxindo.

Tantangan pemasar Lux memang luar biasa. Mulai dari harga produknya yang dua kali lipat lebih dari produk sejenis termahal di pasaran, nama perusahaan yang tidak populer, citra yang kadang tercoreng oknum pemasar nakal, dan seterotip ‘sales’ (maksudnya salesman) dalam benak masyarakat kita. Nasibnya hampir mirip dengan para peminta sumbangan yang ketika membuka komunikasi dari depan pagar rumah dengan “Assalamualaikum” bukannya mendapat jawaban salam tetapi “Yang lain dulu, Pak.”

Seorang pemasar Lux yang sempat mampir, namanya Andi, menurut saya ia memiliki kemampuan yang baik dalam komunikasi. Didukung oleh kepribadiannya yang menyiratkan semangat positif dan product knowledge-nya yang baik membuat presentasinya mengena. Tetapi pemasar Lux terasa menjadi pejuang yang berat kadang dalam arti yang sesungguhnya. Perusahaan terkesan berdiam diri melepaskan para marketernya membangun imej dan mendidik konsumen. Alangkah terbantunya para komunikator pemasaran ini jika perusahaan melakukan pendidikan konsumen lewat above the line channel, sehingga para pemasarnya lebih mudah melakukan tugasnya.

4. Komunikasi ala Pemasar Medic 9000

Produk bagus strategi bagus membuat pemasar Medic 9000 yang sukses mampu memasarkan sebuah alat kesehatan yang harganya sangat mahal. Percaya diri, itu adalah karakter utama produk ini. Di jual dengan cara demo selama sekitar 40 hari dan selama itu tidak diperkenankan terjadi transaksi, hanya murni demo, menjelaskan produk dan mencoba. Baru setelah akhir pameran, orang yang tertarik boleh membeli produknya.

Komunikasi pemasar Medic menumpukan kunci suksesnya pada pemahaman mengenai ilmu hayat, penyakit dan terapinya. Tetapi pemasar yang sukses di bisnis ini tidak hanya yang paling paham hal tersebut. Kepercayaan konsumen dibina dengan pendekatan komunikasi interpersonal yang kuat, intensif dan mengena. Kekuatan komunikasi interpersonal adalah pada ketulusan dan kejujuran. Maka pemasar medic yang setia pada kepuasan pelanggan dan menomor duakan target, potensial menjadi pemasar yang sukses dalam jangka panjang.***

5. Komunikasi ala Telemarketer

Telemarketing sudah menjadi salah satu ujung tombak penjualan saat ini. Tetapi telemarketing sebagai kekuatan pemasaran masih belum banyak dimaksimalkan oleh para pengelola produk. Sebulan terakhir saya banyak menerima telepon dari para operator telemarketing yang sangat jelas terbaca bahwa mereka bekerja dalam target yang ketat, dengan SOP yang kaku dan tidak customized. Artinya, siapapun konsumennya, cara pendekatannya sama. Plek (sama persis) dengan naskah yang ada di tangannya.

Hasilnya, sebuah komunikasi yang aneh karena dia nyerocos entah kemana sementara saya tidak mendengarkan dan tak jarang berakhir menyebalkan karena kengototannya yang dua per tiga memaksa. Saya juga pernah menutup telepon telemarketer, karena dia salah menyebut nama saya sampai tiga kali setelah yang pertama saya koreksi!

Baru terakhir ada telepon dari Rachel, Bank Mandiri. Gaya pendekatannya terlihat lain, lebih dewasa dan tidak text-book, dan yang pasti ramah. Meskipun saya belum ikut program yang ia tawarkan tetapi pola pendekatan ini melekat pada konsumen dan masalah eksekusi adalah masalah yang berbeda, karena terkait kebutuhan, produk itu sendiri dan banyak pertimbangan lain. Tetapi komunikasinya menurut saya, berhasil.***

6. Komunikasi ala HPA

HPA adalah sebuah produk MLM Islam yang memasarkan produk-produk obat herbal. Sekian banyak MLM konvensional yang pernah saya ikuti maupun dengar, semuanya memiliki metode yang serupa, yaitu menanamkan mimpi dan melakukan presentasi sebanyak-banyaknya untuk menelorkan downline yang sebanyak-banyaknya pula. Mimpi adalah pemicu semangat dan down line adalah sumber pendapatan upline dan perusahaan tentunya.

Siapakah sesungguhnya pasar produk MLM? Tak lain adalah si agen itu sendiri. Jadi sang agen bertindak sebagai konsumen sekaligus pemasar produknya.

HPA menjual obat herbal untuk beragam keluhan kesehatan. Terapinya sebagian besar pada sumber masalah kesehatan seperti metabolisme, detoksifikasi, dan pengembalian pola hidup pada jalan yang sehat.

Seorang theraphist, begitu mereka menyebut para agen, tidak terlihat ‘ngoyo’ menutup presentasinya untuk membujuk saya menjadi downline. Bahkan sampai sekarang setelah saya belanja hampir satu jutaan rupiah belum pernah sekalipun saya dirayu untuk menjadi downline.

Sebaliknya kemampuan komunikasinya yang berfilosofi tulus membantu didukung pengetahuan terapi iridologi dan palmistri membuat konsumen seperti saya terkesan dan sampai pada pemikiran meninggalkan obat kimia menuju herbal.***

7. Komunikasi ala PKS

Tebaran spanduk di jalan-jalan akhir-akhir ini terasa semakin menyebalkan. Tidak ada pencerahan apalagi pencerdasan sedikitpun. Buang-buang uang saja rasanya. Beberapa spanduk PKS yang dipasang sejak bulan puasa lalu terasa cukup unik dan segar.

Ungkapan: “Tetangga Kita, Tanggung Jawab Kita” terasa pas saat mana kita mempersiapkan mudik lebaran. Lepas dari orientasi politik, ungkapan-ungkapan PKS dalam spanduknya menurut saya, lebih cerdas dibanding partai manapun. ***

8. Komunikasi ala Opik Tukang Potong Rumput

Tiba-tiba saja, seorang anak muda (setelah saya tanya) usianya belum juga 17 tahun mengetuk pintu pagar rumah. Ia menawarkan jasa mencabut rumput dan membersihkan halaman.

Namanya Opik, dan apa yang ia lakukan adalah menguji keberuntungan dari seribu kemungkinan ditolak. Tetapi apa yang ia lakukan saat itu berhasil, karena saya setuju untuk memberi kesempatan ia membersihkan halaman rumah saya.

Komunikasi yang ia lakukan berkesan beda dengan tukang rumput yang lain. Anak semuda itu bisa bersikap sopan tanpa dibuat-buat. Kata-katanya cukup jelas tanpa a . i .. u seperti pidato Pak RT di acara 17-an, meski pelan. Logatnya masih kental, Betawi. Ini yang membuat saya lebih tertarik dengan presentasinya. Soalnya anak muda Jakarta sekarang ini tak terkecuali anak kampungnya terbiasa malas bekerja apalagi mencabut rumput!

Ketika ia sibuk membesihkan segala macam gulma di area halaman rumah yang sudah berbulan-bulan tak tersentuh gunting dan cangkul itu, ia masih cuek menjawab sapaan bernada mengejek dari teman sebayanya. Semakin terkesanlah kita ini. Apalagi memang pekerjaannya bagus, bersih, rapi dan tuntas.***

9. Komunikasi ala Erwin Fernandez

Erwin Fernandez bukanlah tokoh dari Amerika Selatan atau Spanyol. Nama ini terpampang jelas di Jalan Raya Kecapi Bekasi menjelang Pasar Kecapi. Dibawahnya tertulis Barbershop. Jadi Bang Erwin ini profesinya tukang (kata tukang bukan untuk merendahkan, karena kata ini satu-satunya yang kita punya untuk mengatakan profesi seseorang) Potong Rambut.

Sekali potong disini, dijamin Anda akan balik lagi. Apakah orangnya jago berkomunikasi? Tidak juga. Ia justru cenderung pendiam. Tetapi bagaimana ia memperlakukan pelanggannya adalah sesuatu yang luar biasa dan sangat profesional!

Begitu Anda mencapai pintu depan kiosnya yang terang dengan kaca depan yang bersih, Anda dipersilakan melepas alas kaki. Tetapi Bang Erwin tahu persis, kalau tidak semua orang nyaman melepas alas kakinya, maka disediakanlah sandal rumah seperti yang kita temui di hotel-hotel.

Begitu masuk setelah menggeser pintu kaca, udara sejuk AC segera terasa. Duduklah di kursi tunggu, dan tumpukan majalah dari National Geographic sampai Majalah Mode internasional ada disitu. Oya, Anda juga bisa mengambil permen di dalam toples atau minum air putih dari dispenser jika mau.

Setelah pelanggan incumbent selesai dipotong, dan potongan rambut sudah disapu bersih, Anda dipersilakan naik ke singgasana. Wajah Anda akan terpantul di kaca lebar yang besih, atau tontonlah TV di atas meja di depan Anda atau Anda ingin diputarkan film via VCD Player? Terserah Anda.

Tengoklah ke samping deratan foto orang-orang yang pernah dipotong ditempat ini terpampang di situ, Hah, ya, bukan gambar model potongan rambut tahun 70-an yang terpampang layaknya di tukang potong yang biasa ada.

Selesai di potong, Anda akan dipijat dengan tekanan yang pas, dan jangan lupa ada handuk hangat yang baru saja dikeluarkan dari towel-microwave untuk menyegarkan kepala Anda. Dan setiap tamu, akan mendapatkan handuk yang baru tentu saja.

Jika telah selesai bayar saja 10.000 dan puas dengan gaya potongan rambut atau jika mau extra pijat tinggal tambah lagi sesuai tarif yang terpampang rapi dengan desain yang cukup profesional. Begitulah seharusnya orang menjalankan bisnis!***

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s