Mengelola Penerbitan (2) Aku Harus Menerbitkan Media!


Aku perlu menerbitkan media cetak, Siapa Aku?

Ketika Anda mengetikkan frasa “mengelola penerbitan,” atau “memproduksi media cetak,” atau “proses pembuatan media cetak,” atau yang sejenis itu pada mesin pencari, kemudian Anda menemukan puluhan tulisan yang mengulas perihal itu, termasuk tulisan ini, kemudian membaca dan merasa perlu mencari lagi referensi lain, saya yakin, pasti Anda memang orang yang sudah sewajarnya menjadi penerbit sebuah media cetak. Itu berarti Anda sudah tidak asing lagi dengan kata “penerbitan” bahkan sangat boleh jadi sudah menjadi obsesi dalam hidup Anda.

Apalagi kalau Aku Anda memiliki syarat berikut ini:
a. Di perusahaan, tugasku adalah membangun relasi dengan karyawan dan rekanan yang jumlahnya cukup banyak, atau
b. Aku mengelola sebuah organisasi. (Asosiasi, Mahasiswa, Pelajar, Profesi, Hobi), atau
c. Komunitas tempatku tinggal sangat dinamis sehingga perlu sebuah media, atau
d. Aku melihat sebuah segmen yang belum memiliki media.
Jika Anda salah satu dari itu, berarti membuat media cetak adalah salah satu pilihan hidup Anda! Selanjutnya Anda akan memilih apa bentuk penerbitan yang Anda terbitkan nanti hidup?

Penerbitan internal biasanya hidup dari keuangan perusahaan. Lembaga Swadaya Masyarakat mengelola medianya dengan anggaran dana kampanye yang ada sementara Majalah sekolah membiayai penerbitannya dari iuran siswa. Sementara itu penerbitan komersial menyandarkan hidupnya dari paling tidak dua sumber pendapatan tradisional yaitu penjualan media dan pendapatan iklan. Meskipun dalam perkembangannya, sumber pendapatan lain diluar dua sumber tersebut justru memberi kontribusi yang amat signifikan. Contohnya adalah menyewakan mesin cetak (jika memiliki mesin sendiri), aktivitas off-air, jasa pengelolaan media lain, merchandizing dan seterusnya.

Jadi kesimpulannya, semua ini membutuhkan uang, kan?

Benar. Tetapi, uang dalam sebuah penerbitan dapat bermakna ganda. Pertama, penerbitan adalah membelanjakan uang dan kedua, penerbitan adalah sumber uang. Kemungkinan yang terjadi pada uang kita karena dua hal tersebut adalah:
a. membelanjakan uang, mendapatkan untung kemudian.
b. membelanjakan uang, mendapatkan keuntungan dalam bentuk lain
c. membelanjakan uang saja (Tanpa mendapat keuntungan)
Berapa uang yang harus disiapkan untuk menjalankan sebuah penerbitan? Sabar. Hal ini akan kita bicarakan lebih dalam nanti.

Apa Bedanya penerbitan kecil dan Penerbitan Besar?

Kata yang lebih bisa menjelaskan makna ‘kecil’ barangkali adalah ‘inti.’ Ya, karena sebuah oraganisasi penerbitan yang besar mempekerjakan begitu banyak organ dengan tugasnya yang begitu spesifik. Tentu saja manusia yang menanganinya juga berbilang puluhan bahkan ratusan orang. Sementara, dalam penerbitan kecil orang yang terlibat hanyalah beberapa orang yang memegang fungsi dasar sebuah penerbitan. Bahkan tak jarang satu orang menangani dua tanggungjawab sekaligus!

Setelah membaca tulisan ini, jangan-jangan Anda meluncurkan penerbitan besar beberapa tahun lagi. Kalau itu yang kemudian terjadi, Anda harus bersedia menulis ulang buku ini. Atau paling tidak bersedia menjadi sebuah paragraf contoh. Karena memang tidak mustahil penerbitan besar diawali dari usaha penerbitan kecil bahkan penerbitan hobi yang tidak mencari keuntungan, yang dikelola dengan baik.

Tulisan ini selanjutnya akan banyak berbicara mengenai penerbitan media dalam sekala yang tidak besar. Karena penulis memang tidak memiliki pengalaman untuk itu. Kita akan bicara bagaimana mengelola sebuah penerbitan dengan tiras antara 3000 sampai 10.000 eksemplar saja. Semoga nanti ada kesempatan dan ilmu untuk bicara soal penerbitan besar. Semoga.

Mengapa penerbitan kecil?

Diilhami David Ogilvy, baiklah saya katakan bahwa kecil itu dahsyat. Sebuah iklan karya maestro advertensi ini pernah dengan cerdas mengungkap kebanggaan sebuah perusahaan layanan nomor dua. Perusahaan yang diiklankan oleh Ogilvy & Mather ini tak sungkan mengaku kecil, karenanya justru ia bergerak begitu lincah shingga mampu memberikan servis yang lebih baik daripada layanan sejenis yang besar, birokratis dan lamban!

Tetapi lebih mendasar dari, itu kita memilih menjadi penerbitan kecil karena pangsa pembaca kita cukup dilayani dengan penerbitan skala ini. Kita tidak sedang ingin membangun sebuah media yang mirip supermarket raksasa, dimana terasi hingga sepeda motor dijual di sana. Kita memiliki fokus informasi tertentu untuk dikelola yang efektif dikerjakan oleh sebuah tim liat yang ramping.

Bagaimana Bentuk Penerbitan Kecil itu?

Apa yang ada dalam benak Anda ketika membayangkan sebuah Koran bernama KOMPAS yang setiap hari terbit 400 ribu eksemplar, dengan dua stasiun cetak jarak jauh? Terbit minimal 28 halaman berita setiap hari. Ini berarti Kompas harus menyiapkan dan menata 360 ribu karakter tulisan, atau kurang lebih 200 lembar tulisan dalam kertas A4 dengan spasi 1 ½ setiap hari sebelum jam 24.00 agar dapat diedarkan di seluruh Indonesia sepagi mungkin?

Bandingkan dengan sebuah Koran yang terbit dan beredar di sebuah kabupaten dengan tiras 10 ribu eksemplar dan terbit 18 halaman berita saja.

Bandingkan lagi dengan sebuah majalah 24 halaman (bagilah 4 untuk memperoleh gambaran yang setara dengan halaman sebuah Koran) milik sebuah perusahaan, terbit 7 ribu eksemplar, sebulan sekali dan diedarkan kepada 200 alamat di seluruh Indonesia.

Bandingkan lagi dengan sebuah majalah Kampus yang terbit hingga 40 halaman, terbit 1500 eksemplar, empat bulan sekali diedarkan untuk mahasiswa dan rekanan.

Bandingkan lagi dengan sebuah bulletin milik sekolah yang terbit hingga 40 halaman ukuran A5 dicetak 500 eksemplar, enam bulan sekali diedarkan pada siswa sekolah setiap akhir semester dengan biaya tak lebih dari 2 juta rupiah.

Yang kecil yang luar biasa.

Pada era 80-an di Amerika sudah tumbuh apa yang disebut “Community Newspaper” yaitu Koran yang terbit dan beredar hanya di sebuah wilayah (Negara bagian). Selanjutnya trend lahirnya penerbitan komunitas dan penerbitan khusus bagi kalangan atau segmen tertentu semakin menjadi-jadi, pun di Indonesia. Anda tahu kan, orang sekarang bahkan bisa memperoleh terbitan yang hanya mengupas masalah balap F1 saja, SMS saja dan pakaian dalam saja?

Di Indonesia penerbitan segmented sudah bukan benda asing lagi. Perhatikan saja serpihan koran anak Jawa Pos yang bertitel Radar, ada di seluruh penjuru Indonesia. Juga Kompas dengan Tribun-nya dan seterusnya. Belum lagi tabloid khusus ponsel, olah raga bahkan khusus sepak bola, spesial tanaman, lowongan, rumah dan yang lain lagi yang kian spesifik.

Jadi ukuran yang kecil bagi sebuah media justru memiliki ketajamannya sendiri. Ketepatan melayani segmen dan ketajaman isi, itu adalah kunci majunya sebuah media. Setelah ini kita akan membahas bagaimana menyusun tim yang efektif dalam mengelola media kita. Selamat berlibur, ya!***

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s