Mengapa blog ini ada?

Setiap hari ada berjuta informasi seperti hujan di jagat kecil kita. Kemampuan encoding kita memperlakukan salah satu atau duanya menjadi sesuatu yang terasa asyik kalau dibagi. Layaknya sebuah kemunculan, kesan yang ditulis jadi gagasan itu bisa dimaknai apapun oleh yang meng-encode berikutnya. Begitulah adanya komunikasi. Salam.

Soal Wawan

Jika terbersit memakai kata Communication, dengan mudah kita akan mengindonesiakannya dengan komunikasi. Entah sejak kapan istilah komunikasi itu dipakai dalam khasanah Bahasa Indonesia. Tetapi yang pasti pada Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah tersebut sudah masuk dalam entrinya.

Benarkah tidak ada konsep kata komunikasi yang pernah dipakai oleh orang Indonesia? Sehingga tak ada padanan kata ini dalam khazanah bahasa kebanggaan kita ini? Membolak-balik perbendaharaan kata-kata, saya menemukan istilah wawan yang memiliki pengertian serupa dengan komunikasi, saling bertukar. Dalam bahasa Indonesia dikenal frase wawancara yang artinya bertukar kata atau dialog. Wawancara juga dipakai untuk menerjemahkan kata interview.

Wawan dalam bahasa Jawa lama dipakai bersama dengan kata kerja yang lain untuk menimbulkan makna saling atau interaksi. Sebagai contoh adalah wawan rembag yang bisa diartikan sebagai saling berbincang atau berdiskusi.

Jadi bagaimana kalau kata wawan ini menjadi kandidat untuk mengindonesiakan kata comunication?

Sepertinya akan susah diterima, mengingat begitu kerennya istilah komunikasi dibanding kata wawan ini. Memang tak mudah tetapi bagi saya, hal ini paling tidak menyadarkan kepada kita bahwa konsep komunikasi bukanlah barang impor yang sama sekali tidak dipikirkan oleh bangsa kita, sehingga tidak ada padanan katanya sama sekali.***

4 Tanggapan ke “Mengapa blog ini ada?”

  1. Heri Berkata:

    Mas Amin, penjenengan benar. Dalam pakeliran (pedalangan) yang sering saya tonton, kadang ki dalang menggunakan kata “wawan sabda” atau “wawan pangandikan”, yang sepertinya dimaksudkan untuk melukiskan sebuah proses bertukar pesan, sebuah proses resiprokal. Problemnya, kata wawan itu pada hemat saya tidak bisa berdiri terpisah, barangkali analog dengan kata pasca atau pra yang harus dilengkapi dengan kata lain. Tapi, apapun, saya juga sepakat bahwa komunikasi bukan konsep yang completely imported. Tabik. (Heri, adik angkatan Mas Amin).
    ————————————————————————————————-
    Begitulah Mas Hery. Semoga ngga berhenti pada ‘bangga’ saja.

  2. anggoro Berkata:

    Min, aku jané ya penasaran karo tembung iki. Nèk manut kamus basa jawa (bausastra jawa weton balai bahasa yogyakarta):
    -KN lawan; kalawan
    -wawan gunem : geguneman; rere,bugan
    -wawan padu: èyèl2an
    -pasulayan

    yèn dideleng seka tembung2 kuwi, pancèn apa sing kababaraké déning Mas Hery ya cocog, yaiku reprikol. Nanging, tembung “komunikasi” iku apa mung artiné resiprokal thok?
    suwun

    ———————————————————————–
    Artinya: Min sesungguhnya aku juga penasaran dengan kata ini. Menurut kamus Bahasa Jawa (Bausastra Jawa terbitan Balai Bahasa Jogjakarta):

    -KN lawan; kalawan (KN dengan, dengan)
    -wawan gunem : geguneman; rere,bugan (wawan kata: bercakap; berembug)
    -wawan padu: èyèl2an (wawan bantah: berbantah-bantahan)
    -pasulayan (perkelahian, cekcok)

    Kalau dilihat dari kata-kata tersebut, apa yang di tulis Mas Hery memang ada benarnya (pas), yaitu resiprokal (reprikol?). Tetapi masalahnya, kata “komunikasi” itu apakah hanya bermakna resiprokal saja?
    Terimakasih.

  3. defrimardinsyah Berkata:

    Amin,…
    salam kenal… kunjungan balasan…
    sering-sering mampir… dan kasih masuan

  4. Adri Berkata:

    terimakasih sudah mampir ke Blog saya, dengan senang hati saya akan mengirimkan stickernya :)

Tinggalkan Balasan