I
Tahun yang Lahir Mati
Tahun ini sebenarnya sudah mati.
Dan kita adalah belatung-belatung pada bangkai tahun yang membusuk.
Kita adalah binatang yang dilahirkan nyaris tanpa panca indera. Tidak bisa melihat. Tidak kuasa meraba. Tidak juga mendengar. Tidak mencecap. Penciuman kita hanya mampu mengendus sebuah bau. Bau yang menuntun kita untuk mendatangi sumbernya. Bau menyengat yang menjadi sangat merangsang, seperti gemerincing uang. Bau busuk menusuk, seperti birahi yang terbit di pagi hari. Bau anyir yang menyihir, adalah angin kipasan dayang-dayang yang semilir. Ya, seperti bau tahun ini juga yang membawa kita berkumpul di liangnya yang lindi.
Kita hidup tanpa memerlukan anggota. Organ kita hanyalah mulut dan anus. Kaki tangan pun tidak. Kita bergerak dengan bertumpu pada orang-orang didekat kita. Berguling kesana kemari dengan menindih yang ada dibawah kita.
Dengan mulut kita melahap bagian-bagian tahun yang meluruh. Dari detik ke detik kita terus saja mengunyah. Ya, itulah aktivitas kita. Hanya itu. Makan adalah kerja. Makan adalah olah raga. Makan adalah hidup. Hidup adalah makan.
Ya, kita adalah binatang dengan satu mulut dan satu anus yang terus menerus menggerogoti tahun yang sudah membujur ini, sambil terus menerus menambah jumlah kita dengan persetubuhan yang sangat primitif. Naluri saja yang membimbing kita menebar benih kesana kemari tanpa tahu akan menjadi apa nantinya spermatozoa itu, sel telur mana yang akan dibuahinya. Tidak ada yang kita pedulikan, karena kita adalah binatang terbelakang yang hanya disatukan oleh sebuah aroma. Anak-anak kita berjubel memenuhi kereta reot menuju masa depan.
Anak-anak kita adalah anak-anak yang tidak mengenal kata apapun kecuali makan. Mereka berebut dengan orang-orang yang lebih tua. Mendorong, menggeser dengan paksa, bahkan melempar mereka ramai-ramai keluar koloni dengan akhir yang sangat pasti yaitu mati. Seperti anak sekolah yang dilemparkan dari atas kereta listrik yang melaju cepat oleh sesamanya.
Karena kita menelan hidangan yang busuk, menghirup udara yang busuk, maka kita juga mengeluarkan kotoran yang sangat busuk berupa cairan kental yang melata. Sebenarnya kalau disebut makan, tentu hanyalah memenuhi sebuah rongga kecil dari bagian tubuh kita yang tak lebih dari seper sepuluh dari besar tubuh kita. Seharusnya. Tetapi kita makan bukan untuk itu. Bagaimana tidak, jika kita melakukannya siang malam, tanpa istirahat dan tanpa kenyang. Paling kita hanya mundur sejenak dari barisan yang paling depan, paling dekat dengan makanan ke barisan belakang. Kemudian berusaha maju lagi untuk mencecap daging tahun yang semakin lama semakin menipis. Tapi kita merasa harus melahapnya dengan gairah, semangat, gigitan, suapan yang sama besar. Bahkan kalau perlu harus lebih cepat, semakin cepat lagi. Mumpung masih tersisa.
Pertanyaan filsafat yang paling besar dalam dunia kita adalah mengapa kita harus merisaukan tentang kematian kalau kita ini hidup dari sebuah kematian? Dan kata-kata itu terus berputar-putar menjadi retorik asteismus2 yang dalam sejarah kaum belatung tak pernah ada yang menjadi pasti. Tak juga menjadi pegangan hidup yang menunjukkan kebajikan. Filososfi itu justru menjadi senjata yang selalu menjadi pelarian ketika perbincangan menemukan jalan buntu. Atau menjadi apologi bagi pencaplokan hak makan belatung lain.
Bisa jadi kita memang tidak sedang makan yang sebenarnya. Kita sedang menghancurkan habitat kita ini hingga luluh lantak. Agar kita juga binasa. Entahlah. Tapi ngomong-ngomong, aku harus kembali makan, membunuh tahun yang sudah mati ini. Bye!
II
Ludes
Kami baru saja mengubur bangkai seekor Orang Utan yang terkapar di rerumputan basah. Beberapa ulat putih berjatuhan dari lukanya saat kami mengangkat tubuhnya yang kaku menuju lubang kuburnya. Baunya, sudahlah aku tak ingin menikmatinya lagi. Matanya yang hitam legam masih terbuka. Entah, mungkin kami sok tahu atau sok berperasaan, tetapi mata itu masih menyisakan aura pilu. Binatang ini meninggal dalam kesedihan yang dalam. Mungkin dalam kesendirian. Hutan ini benar-benar belantara kisah yang tak pernah habis, meski aku telah membukanya setiap hari, sebulan ini.
Hutan ini jelas bukan perawan. Apalagi kalau gadis itu analogi untuk seluruh hutan yang ada di seluruh daratan Kalimantan. Ia sudah begitu ternoda, bahkan hutan tempatku bekerja saat ini tak lebih dari sisa secuil tubuhnya.
Aku memang sedang keranjingan mengitari hutan di ujung utara Kalimantan ini. Alasannya bisa bermacam-macam. Setelah dikirim menjadi Polisi Pengawas Hutan di kawasan Mueler aku segera terperangkap pada dua pesona rimba tropis yang belum pernah aku rasakan.
Aku pulang. Yamaha DT-ku meraung ketika aku menikung tajam masuk halaman. Biasa, kopling motor trail ini kadangkala susah kembali ke posisi semula. Orang yang belum terbiasa, bisa berpikir aku sedang marah. Tak apalah, malah jadi kelihatan maco, sedikit urakan.
Siapa yang bertamu sore begini? Bermobil pula. Bahkan bukan sembarang mobil. Sebuah Jeep Wrangler warna coklat. Dari kilaunya, nampaknya belum lama dibeli. Entah, berapa harganya. Kata orang 40 0 juta, mungkin sekitar itu. Aku memang tahu serba sedikit mobil ini. Ya, tahulah, mimpi. Tapi itu dulu, waktu masih sekolah. Aku berpikir dengan kuliah di Geografi, bakal mudah cari uang. Ah, sudahlah.
Aku sudah bersiap berbasa-basi dengan siapapun yang duduk di ruang tamu. Sepeda motor aku parkir bersebelahan dengan mobil tamuku. Harusnya orang penting, pikirku sambil melepas helm. Ini mobil Samarinda, menilik platnya. Berhelai daun beringin gugur, terserak di atas kap. Berarti sudah agak lama mobil ini terparkir di sini.
Anehnya, ketika aku melangkah ke teras, tak terlihat tanda-tanda orang di dalam. Baru saja mau mengucap salam, dari halaman samping Ngadipar berlari menyambutku. Memberi sebuah bungkusan sebesar kamus bahasa inggris Oxford yang ditentengnya di tangan kiri.
(ditambahkan pada 29 Januari 2009-atr)
Hadiah Kecil
Ngadipar adalah anak muda yang rajin. Tipologi orang jawa yang menjadi stereotip keberhasilan mereka merantau di seantero kepulauan Nusantara. Kalau aku naik mobil dari Balikpapan, Samarinda, Bontang bahkan terus lagi ke Sengatta, maka orang Jawa ada di sepanjang jalur itu dengan usahanya masing-masing.
Laki-laki yang masih terus belajar meski sudah tidak bersekolah lagi semenjak dua tahun lalu keluar dari STM Pembangunan di sudut utara kota Jogja. Lagi-lagi sebuah semangat yang aku ingin lihat pada elan anak-anak muda Indonesia. Gigih meski bagaimanapun keadaannya. Siapa yang akan menjamin Ngadipar akan bisa sekolah lagi, atau bakal sukses karena ketekunannya? Tidak ada seorangpun. Tetapi ia terus melakukan pengayaan diri, seolah belajar dan bekerja adalah darahnya. Sehingga ia melakukan semua itu dengan kegembiraan khas cah ndesa (anak kampung) yang mengagumkan.
Dahulu aku menumpang kos di rumah orang tua Ngadipar. Rumah bergaya desa di tengah kotanisasi wilayah-wilayah pinggiran Jogja. Halaman depannya masih berpayung rimbun pohon bambu hijau yang menebar nuansa teduh namun lembab dan gelap di sekitarnya. Padahal tak jauh dari rumah itu adalah Kampus Universitas Atmajaya yang mentereng, Kampus Universitas Negeri Jogjakarta dan Universitas Gadjah Mada yang modern.