- 1 -
Percintaan Matahari dan Bunga
Apa sesungguhnya kebahagiaan itu?
Keceriaan yang selalu mengembang seprti senyum dalam iklan-iklan?
Bepergian yang tidak selalu memiliki tujuan?
Atau lapar yang sudah terlupakan bagaimana bentuknya?
Tangan-tangan Matahari menjulur perlahan, ingin merengkuh Bunga. Meskipun tanpa melihat, Bunga yang berdiri membelakangi arah datang Matahari, segera menyadari kehadiran sosok itu. Karena anggota itu begitu bugar, sehingga aura hangat segera merebak di seputar otot-otot lengan yang nampak kuat terlatih. Meskipun begitu, Bunga yang berada dalam jangkauan pelukan Matahari tak sempat berbuat apapun. Baru saja otaknya berpikir akan keberadaan Matahari, hup, pandangannya tiba-tiba gelap!
Reflek jika Bunga langsung meronta. Tangan-tangannya mencengkeram pergelangan sepasang cakar elang yang mengunci kepalanya dengan lembut tapi kokoh. Jari-jari Matahari rapat menutup matanya. Hanya penciuman Bunga saja yang tetap bekerja dengan amat baik, sehingga bisa mengenali uap harum membius parfum YSL yang membuat matanya yang sudah tertutup telapak tangan itu, masih sempat terpejam entah seperberapa detik. Bunga tetap meronta, sambil menyebut nama Hari, Matahari dan kata-kata lepaskan, apa sih, ayo dong, dan diantaranya ada deraian tawa yang setengah menjerit. Bunga tidak merasakan cengkeraman itu menjadi kendor atau lepas, tetapi sebaliknya, justru telinganya menjadi sangat dekat dengan helaan-helaan udara panas.
Matahari menahan suara. Kalau Bunga melihatnya, pria berbaju putih itu tertawa tertahan sehingga majahnya jadi penuh senyum. Ketika wajahnya sangat dekat dengan telinga kiri Bunga terdengar bisikan, Maukah kau menikah denganku?
Tawa Bunga semakin meledak. Masih setengah menjerit. Dan di sela-selanya ia mencoba berkata Ya. Ya. Aku bersedia sayang. Meskipun untuk itu ia harus mengatur irama tawa dan rontaannya yang mengganggu bicaranya.
Setelah itu tiba-tiba pandangan mata Bunga menjadi terang. Entah sadar atau tidak ia sudah berbalik dan mendapati sebidang wajah laki-laki yang indah dan laki-laki, Matahari.
***
Matahari sore itu masih sangat terang, meskipun nuansa tungsteen sudah nampak, sehingga suasana kota menjadi kekuningan. Laki-laki yang berada dalam mobil Cherookee itu juga Matahari. Ia menyinari sebuah perusahaan penyuplai alat-alat kantor yang sukses. Perusahaan yang dimulainya empat tahun lalu, kini telah mencatat penghasilan seratus jutaan per bulan. Ibarat matahari, ia sedang menuju terang sekarang.
Kawasan Imam Bonjol pada waktu seperti itu memang lumayan menyenangkan. Apalagi lalu-lintas tidak begitu padat. Jalan besar dua arah yang sambung menyambung dengan kawasan Menteng, Senopati di belakangnya dan kawasan bisnis Thamrin di arah depan memang pantas membuat jalan ini menjadi jalur utama yang sibuk.
Matahari baru saja keluar dari kompleks Plaza Bumidaya, sebuah gedung bertingkat tigapuluh enam yang pernah menjadi gedung super elit di sepuluh tahun yang lalu. Sejak krisis perbankan berjangkit di Indonesia, Plaza yang menjadi simbol kejayaan sebuah bank itu segera menjadi sebuah gedung yang kurang terawat.
Dahulu Plaza itu bernama BBD Plaza, kemudian Harmoko entah sengaja atau tidak mengasosiasikan penggunaan istilah asing sebagai perbuatan anasionalis. Akibatnya serta merta orang bergerak serempak mengikuti dengan nuansa ketakutan perintah berantai yang sulit di mengerti ujung pangkalnya. Orang menduga pasti ini adalah atas persetujuan Pak Harto, sehingga kalau sudah begitu, siapa yang berani menentang?
Jadilah BBD Plaza yang mengandung kata asing Plaza, berganti menjadi Plasa BBD, yang lebih Indonesia, katanya. Di bilangan yang lain perubahan ini juga dilakukan oleh merek dagang. Ada Mall yang menjadi Mal, ada Grand Melia menjadi Gran Melia, sebuah keputusan poitik yang menggelikan dari sebuah rezim yang lucu. Tak mungkin sebuah nilai bisa demikian mudah diubah hanya dengan sepucuk surat keputusan menteri. Buktinya sekarang nama-nama asing tetap saja bermunculan, bukan saja pada nama gedung atau kawasan realestate, tetapi pada merek makanan dan nama warung. Bagaimana sebuah kebijakan anti nama asing dibuat oleh seorang pejabat, sementara sang pembuat lebih suka menyebut anaknya Tommy daripada Tomo, lebih suka dipanggil Papa daripada bapak? Aneh.
Mobil Cherokee merah itu terus berbaur dengan keramaian ruas Sudirman, menuju sebuah kantor desain kecil di kawasan Pakubuwono.
Ketika Matahari sampai di Imagon Creatius suasana sudah sepi. Di tempat parkir terlihat dua buah mobil, Kijang dan sebuah mobil korea berasa Italia Matrix. Mobil dari Jepang kini memang harus bersaing ketat dengan mobil Korea yang terkenal harganya lebih murah.
Matahari memasuki kantor. Usman yang jaga di depan sudah maklum siapa yang datang, sehingga dibiarkannya Matahari menuju ruangan bossnya. Matahari menjaga ketukan langkahnya. Membuka pintu perlahan, dan dilihatnya Bunga sedang berdiri menghadap jendela sambil membaca buku dengan serius. Kedatangan Matahari sama sekali tak disadarinya. Matahari mendekati buka, menjulurkan tangannya dan hup, ditutupnya mata Bunga dari belakang.
***
“Bagaimana kabar undangan kita, Sayang?” Matahari bertanya sambil duduk di sofa. Tanganny sibuk dengan komputer kecil di tangannya. Sebuah pulpen elektronik di sentuh-sentuhkannya pada layar PDA-nya. Bunga yang sedang mengambil minum dari kulkas di terhenti sebentar, mencerna kata-kata Matahari yang tak terlalu jelas didengarnya.
“Ya, masih dikerjakan Arit.”
Bunga datang dengan segelas besar Quick Orange dengan dadu-dadu es yang mengambang.
“Sedang dibuat sayang.” Bunga mengulangi penjelasannya, sambil mengambil duduk di sebelah Matahari. Ikut diperhatikannya layar PDA yang ada di tangan Matahari. Sedetik kemudian Matahari menyudahi kesibukannya. Memasukkan barang itu ke dalam kantongnya.