MEGAT RUH
(Kehilangan I)
Pasti dunia tiba-tiba gelap ya Ayah.
Seperti waktu kita terjebak
dalam rumah hantu lebaran yang lalu, kah?
Katanya hantu adalah dunia orang mati.
Mengapa harus gelap, Ayah?
Bukankah istigfar Ayah adalah cahaya?
Ya, Ayah membawanya kan?
Aku tahu Ayah bukan pelupa.
GKL 26 Des 1997
RUAHAN
(Kehilangan II)
Ada mata, hidung, mulut, terapung-apung
bersama mawar, kantil dan kelopak-kelopaknya yang hijau.
(Mulut yang terapung itu) melantunkan doa
mirip sekali dengan seorang lelaki,
yang setiap subuh berpamitan kepada Tuhannya
sebelum menyiram segala tetumbuhan
dengan embun yang paling pagi.
Hingga suatu siang saat matahari mengepul,
bersama segumpal nasi sambal dipiring tanah,
ia melihat Tuannya itu telah menanti diambang,
dan mengajaknya berangkat.
“Aku selalu pamit pada Mu sebelum pergi,” katanya berdoa.
Tuhan seperti mengangguk, pejuang itu mencium dahulu, istrinya.
GKL, 27 Des 1997
KENANGAN PADA LELAKI YANG BANGUN PAGI-PAGI
(Kehilangan III)
Subuh telah menguap menjadi dengus kerbau
yang bersedia membajak tanah air.
Musim kering baru saja mati,
di kuburnya tumbuh lumut dan jamur-jamuran lembab.
Lelaki yang selalu bangun pagi-pagi itu mulai lagi,
menggali buku-buku Balai Pustaka dan Tiga Serangkai
untuk mengajari tunas-tunas pisang membaca hidup.
Ia bilang, katanya hujan segera datang, maka bergegaslah!
Laki-laki yang selalu bangun pagi-pagi.
Pagi-paginya telah menjadi novelet panjang
yang selalu muncul di halaman pertama diary paradiso Rakib-Atit.
Remaja-remaja pisang mengisahkan beberapa episode,
tetapi belum juga tamat.
Kau keburu wafat.
GKL, 27 Des 1997
SURAT DARI DESA
(Kehilangan IV)
Kring … kriing!
Ayah menuntun sapi dan kerbaunya,
menambatkannya didalam sebuah amplop putih,
berbaring sesak bersama sebaris harapan.
GKL, 27 Des 1997