WISUDA I
Masuklah ke dalam peti mati ini
di dalamnya lampu-lampu sudah menyala.
Selamat, selamat.
GKL 21 Oktober 1998
WISUDA II
Mahasiswa berbaris menuju masa depan.
Lapar dan muka-muka terbakar di sepanjang jalan.
Mereka kibarkan bendera putih
pada tulang belulang dari tengkorak mereka sendiri.
Yang berbaris,
menatap lurus, lupa.
Setelah tikungan didepan itu, apa.
GKL 30 Oktober 1998
WISUDA III
Jubah ini menyeragamkan kita
pidato ini menyuruh kita
benang yang tergantung didepan mata ini
menghipnotis kita
untuk mengosongkan otak
untuk menanggalkan ikat kepala
untuk menurunkan kepalan tangan
untuk menjadi kerbau di desa pembangunan.
Tetapi kita tertawa
kita lepas jubah
kita kenakan ikat kepala
kita panjatkan zikir
kita penuhi otak kita
dengan doktrin kebenaran
kita akan menjadi loko
yang menarik petani dan anak-anak sekolah,
pejabat dan tentara
kepada sebuah desa demokrasi.
GKL 30 Oktober 1998
WISUDA IV
Kuberi engkau gelar
yaitu kata-kata yang berpendar dibelakang namamu
seperti mahkota di kepala raja
yang memberi hak kepadanya menundukkan kota-kota
menyiksa dan memperkosa rakyatnya.
(Kuterima gelar ini, kubawa pulang untuk hadiah ibuku)
GKL 30 Oktober 1998