SEBUAH PAGI DI TELUK MATAMU
Akhirnya aku datang dengan telanjang.
Mawarpun tidak barang setangkai.
Meski habis pencarian di seluruh malam,
Matahari pasti telah menyembunyikan seluruh kuncupnya!
Dari pucuknya yang kering, aku meloncat ke sampingmu.
duduk di sini, ditepi tenang teluk matamu,
memandang perahu kita yang mendekat itu.
Aku terpesona akan hatimu yang mendewasa.
: Kau tidak pernah menanyakan mawarmu.
Kalibata 11 juli 2004
AKU TAK SUKA BUNGA
Aku tak suka bunga, katamu,
yang di gunting dari pucuk daun remaja.
Hingga ia dipasung dalam vas tak abai dan sia-sia yang kejam.
Aku tak suka bunga, katamu,
yang dicuri dari kebahagiaan sederhana akar dan daun.
Hingga tak ada harga kerasnya sebuah kerja.
Aku tak suka bunga, katamu,
yang di petik dari keluarga puspita yang gembira.
Hingga luka itupun menangis meluapkan getah yang sepat.
Aku tak suka bunga, katamu,
yang di cabut dari tanah jiwa yang permai.
Hingga lumut dan jamur saja yang tinggal.
Buka saja jendela, sayang
Biarkan bunga berlarian di halaman.
Kalibata11 Juli 2004
LEMARI BUKU DI RUANG TAMU
Pacaran di depan Soekarno-Hatta,
Seperti remaja yang hadir dalam revolusi empat lima.
Menggandeng segadis berkebaya dan bertusuk konde pena.
Berbincang denganmu di halaman belakang Tanah Air Kita
Bertemu Douwes Dekker yang melukis dengan cahaya.
Ia menunjukkan tempat-tempat berpesona.
“Untuk bulan madu.” Katanya.
Aha, kita ditengah ribuan orang bernama,
Kerani genius di Swiss,
Don di sudut Sicilia yang selalu senja,
Rabiah yang menangis di Irak lama,
Perempuan-perempuan bali di dalam buih feminisme.
Bahkan dewa-dewi di kala mitos pucuk Olympus,
adalah teman-teman saat aku menegaskan,
bahwa aku mencintai hatimu.
Kalibata 11 September 2004
MEMBACA BUKU LAGI SAYANG?
Untuk: Mumtaz
Membaca buku lagi sayang?
Hari ini bacalah buku ini.
Buku jiwaku.
Temukan kalimatnya yang mengalir,
Seperti zikir.
Ejalah jutaan kata-katanya, yang hanya lima huruf.
Bukalah halaman persembahannya.
Untukmu.
Kalibata 8 maret 2004