Komunikasi dan Wajah Kota


Saat belajar Ilmu Komunikasi, di bangku kuliah dulu. (Istilah “bangku” ini menarik juga buat dibahas, soalnya aku agak bingung saat ketemu beberapa orang yang mengartikannya sebagai “kursi” padahal dalam otakku artinya “meja” … nanti kita buka KBBI deh … ) komunikasi itu terlihat sophisticated, tinggi, penuh citarasa estetik dan etik yang mengagumkan.

Menekuni dunia ini selama more or less sewindu terakhir ini dari mulai mengutak-atik aplikasi grafis, menulis advertorial, mengatur produksi audio visual, menjadi wartawan .. UKM .. majalah jalan-jalan, menjalankan sebuah bisnis komunikasi**, sampai menjadi pegawai Corporate Communication di perusahaan yang memiliki anak-anak usaha di Indonesia, Thailand, Cina dan India, sebenarnya masih meyakinkan kalau pekerjaan Komunikasi itu masih tetep renyah dan enak.

Tetapi prihatin dalam benak, tak tertahan saat melihat industri komunikasi dan cabang-cabangnya yang semakin meranting jauh, banyak melahirkan praktek-praktek yang seperti meninggalkan estetika dan etika.(Sebenarnya ide tulisan ini sederhana saja, tak sehebat itu hingga etika dan estetika.) Ambil contoh, billboard. Sungguh tak ada indah-indahnya melihat belantara reklame pinggir jalan yang bertebaran silang sengkarut jauh dari keindahan apalagi seni. Kesan yang muncul justru seperti perang di jalan bak ormas dan tawuran pelajar.

Sepeda motor melaju di trotoar adalah cerita lama. Tetapi gali lobang tutup lupa (bilboard ini kreatif banget, semoga masangnya juga memperhitungkan tata ruang yang estetis) trotoar sebenarnya adalah cerita yang lebih lama lagi. Sedihnya, yang melakukan adalah perusahaan komunikasi dan saat ini semakin sering! Kabel serat optik punya ini, besok punya itu, besoknya lagi punya dia, fuh … cape.

Wajah kota seharusnya semakin indah karena orang-orang komunikasi yang tahu seni dan etika. Tapi sepertinya kita belum melakukan hal yang benar. Akankah kita melakukan hal yang benar sekarang? Semoga.@

** (Thanks to Bang Andi untuk komputer 386 dan persahabatannya sehingga kita bisa belajar CorelDraw dan Pagemaker4, Marhen dan Meta “Pena Persada” untuk teori desain, teknik screen dan offset printing, Pak Asmono (asmono28.wordpress.com) yang membuat saya bisa menulis advertorial produk-produk kelas dunia semacam Sharp, Panasonic, dan jawara nasional seperti BCA, Jiwasraya, HiPoint, dll.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s