PR dan Communicator


Komunikator dipahami sebagai orang yang menyampaikan pesan dalam sebuah komunikasi. Yang menerima, ada yang menyebutnya komunikan ada juga komunikate. Bahasa Inggrisnya adalah receiver. Saya lebih suka menyebut komunikan, lebih menunjukkan kreativitas bahasa Indonesia. Istilah ini memang tidak terlalu populer jika dibandingkan komunikator. Apalagi Nokia Communicator. (Wah!)

Pekerja komunikasi dengan mudah dikotak-kotak dalam beberapa jurusan yang paling poluer. Ada PR atau Public Relations, Jurnalis atau wartawan atau reporter. Dahulu di Universitas Diponegoro (dan universitas lain) ada jurusan Penerangan untuk menunjukkan bahwa ada profesi ‘juru penerang’ yang diakui sebagai profesi komunikasi. Sekarang, entah karena alasan apa Jurusan Penerangan tiba-tiba hilang sejalan dengan runtuhnya rezim Orde Baru. Apakah ada tali temali antara Jurusan Penerangan di dalam ranah Ilmu Komunikasi Indonesia dengan rejim Suharto? (Mungkin ada yang bisa menjelaskan?)

Meskipun realitas profesi insan komunikasi sudah banyak di luar ruang kuliah, saat itu hanya itu yang ditawarkan oleh perkuliahan Ilmu Komunikasi. Tentu sangat lain jika dibandingkan dengan hari ini. Seraya menghapus Jurusan Penerangan, maka muncullah Jurusan Periklanan, manajemen & strategi komunikasi sosial dan pembangunan (Undip), Manajemen Komunikasi (Unpad), Broadcasting, Mass Communication, Advertising, Media Studies (UI) dll.

Waktu itu, Jurusan PR adalah jurusan yang terkesan genit nan elit. Saya tidak sendirian untuk itu, Rhenald Kasali yang menulis buku Manajemen PR juga mengatakan bahwa persepsi itu ada. Dalam bahasa Rhenald, Jurusan PR disamakan dengan Sekolah Kepribadian.

Dua tahun terakhir ini bagi saya adalah waktu belajar tentang dunia PR dari dalam. (Belajar terus, kata seorang teman. Ya memang begitulah adanya.) Ternyata menjadi PR bukanlah cantik-cantikan, apalagi genit-genitan. PR tak ubahnya profesi komunikasi yang lain, menuntut keliatan, stamina, kemampuan keilmuan dan seterusnya. Kalau ada yang terlihat hanya bergaya, sudahlah, barangkali ia sedang tersesat dalam dunia profesi yang salah. Tapi, bukankah profesi komunikasi apapun bisa ditampilkan kenes, bahkan wartawan sekalipun?

Bedanya adalah profesionalisme. Kalau ia PR yang profesional, pasti dia tak akan mengandalkan pesona penampilan untuk bekerja. Bagaimana bisa asal tampil kalau seorang PR sesungguhnya di tuntut menjadi KOMUNIKATOR. Ia adalah sumber berita bagi sekalian wartawan. Ia adalah sasaran kamera dari segenap kamerawan. Ia adalah source dari informasi yang dilahap oleh para penikmat media.

PR adalah profesi komunikasi yang unik, ia berhubungan dengan hampir semua lini bidang ini. Wartawan adalah kawan kesehariannya, Event Organizer adalah mitranya. Desainer adalah kawan meeting-nya. Tukang sablon dan tukang cetak, adalah tumpuannya. Sutradara, kru film dan fotografer adalah lawan diskusinya.

Kesimpulannya, menjadi PR adalah menjadi komunikator. Tak peduli apakah menenteng Communicator E90 atau tidak.

One thought on “PR dan Communicator

  1. Masih bnyk jg PR atau Markom yang salah mengomunikasikan pesannya, jdnya sbg komunikator dia gagal. Krn itulah saya banting setir dari dunia komunikasi ke dunia wirausaha.

    Tp wirausaha juga butuh komunikasi ya, Mas, hehehe!

    Salam kenal ya, Mas!
    (mm..perasaan udah kenal deh, aku kan dulu di SPS :p)

    ———————————————————-

    Ya, saya kenal Yana kok, hanya minim interaksi. Terimakasih mampir. Wah wira usaha apaan nih? Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s