Bendera


Bendera menjadi salah satu bahasa komunikasi yang mewarnai hampir setiap perjalanan sehari-hari kita. Kapan bendera pertama kali digunakan orang, tidak banyak yang pernah menceritakan. Ada yang bilang bahwa Bendera pertamakali dibuat oleh orang China kemudian India. Dalam sejarah Indonesia, disebutkan bahwa bendera Gula Kelapa (Merah Putih) sudah digunakan oleh Sultan Agung saat menyerang Batavia bahkan pada peristiwa peperangan sebelumnya. Tetapi kalau warna merah dan putih, kisahnya bisa ditarik jauh lebih kebelakang lagi.

Saat ini bendera masih menjadi andalan untuk membahasakan pesan-pesan tertentu. Negara, Partai, suporter sepak bola, penggemar grup musik sampai kabar lelayu mengandalkan bendera untuk berbicara kepada khalayak.

Bendera dengan ukuran 2×3 (ada bendera negara berukuran 2,5×3 ada pula yang bujur sangkar!) menjadi sebuah bentuk yang memiliki makna resmi. Sampai-sampai saat melihat bendera Nepal yang berbentuk dua segitiga, (di halaman belakang dalam Atlas Dunia yang berisi kumpulan bendera-bendera dunia) jadi terkesan aneh, tidak lazim.

Cara menggunakan bendera juga memberi makna tertentu bagi sang komunikator dan pihak lain yang menerima pesan tersebut. Bendera yang dikibarkan pada tiang tinggi menunjukkan kebesaran si pemilik bendera. Ya, untuk membuatnya berkibar setinggi itu kan perlu sebuah usaha keras dan biaya? Bendera setengah tiang menunjukkan simpati terhadap sesuatu peristiwa. Dalam makna yang ironis, posisi setengah tiang kadang juga bermakna perlawanan terhadap kekuasaan.

Dalam cerita jaman dahulu dan film-film klasik, saat bertempur pasukan membawa bendera sembari memacu kudanya untuk medapatkan efek kibaran yang sempurna. Menunjukkan keberanian dan keperkasaan, siap membunuh atau mati. Dalam cerita jaman sekarang, pendukung partai dan suporter bola juga melakukan hal yang sama. Bedanya mereka memacu motor atau angkot yang penuh ’pasukan’ hingga ke atapnya, bukan kuda atau kereta perang.

Dalam dunia komodifikasi, bendera tak luput dari tugas menjual. Bedanya, harus ada rekayasa bentuk bendera agar tidak berdimensi 2×3 yang membosankan. Maka akhirnya dikenal umbul-umbul, spanduk, flag chain dan aneka bendera dengan bentuk entah segitiga, persegi panjang dengan ujung meruncing dan seterusnya.

Umbul-umbul sebenarnya punya kisah yang indah, asesori jalan di istana kerajaan, kuil-kuil hindu Bali dan rumah-rumah pejabat kerajaan berhiaskan Penjor dan umbul-umbul warna warni. Sekarang, modifikasi umbul-umbul dengan pesan marketing lebih terasa mengganggu pemandangan daripada membuat indah.

Melihat kain yang bekibar-kibar saling silang, mengingatkan komunikasi ala pramuniaga di pasar yang menyebut dirinya trade center. Beragam tawaran dari mulai diskon, sampai cicilan bunga 0% yang ditera pada kain umbul-umbul dan spanduk, persis seperti sapaan, ’Boleh Kak, celananya,’ atau ’Silakan masuk dulu lihat-lihat’ yang bersahut-sahutan. Khas pasar tradisional, sebenarnya.

Di jaman yang banyak menyebut eranya komunikasi modern, terasa ironi melihat cara-cara tradisional itu masih menjadi garda depan cara berjualan kita. Bahkan iklan TV pun masih banyak yang menggunakan cara berkomunikasi yang mengutip Bung Kano, jual kecap yang selalu no.1.

Jualan figur calon pemimpin pun lebih memilih dengan komunikasi spanduk. Lihat saja bagaimana spanduk, umbul-umbul dan aneka baliho calon bupati/walikota atau gubernur. Hampir semuanya ceriwis ala pramuniaga trade center. ’Boleh Kak, coblos saya.’ Lagi-lagi alih-alih indah mempesona, yang ada membuat kota jadi ‘kumuh.’ Malas rasanya memilih pemimpin yang belum terpilih saja sudah pandai merusak wajah kota.***

One thought on “Bendera

  1. dalam marketing politik, bendera adalah salah satu cara untuk memperkenalkan simbol-simbol partai kepada masyrakat…..

    setuju juga dg argumentasi mas Amien….seharusnya kampanye lebih pada upaya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s