Narsisisme, Digitalisme dan Asalisme


Narsisus itu pemuda yang tampan. Saking tampannya, ia selalu kagum dengan bayangan wajahnya sendiri di air danau yang jernih, bahkan jatuh cinta kepadanya. Bahkan ia mengabaikan panggilan Echo si peri hutan yang cantik jelita. Dari legenda Yunani itu muncullah istilah narsisisme untuk menyebut orang yang membanggakan diri sendiri. Istilah yang keren dan pantas untuk sebuah fenomena psikologis yang rumit.

Kalau digitalisme? He he he, sebenarnya hanya istilah saya yang biar kelihatan gaya untuk menyebut demam digital-printing tahun-tahun terakhir ini. Karena revolusi printing besar menggunakan digital printer ukuran besar dengan harga sangat murah telah melahirkan gaya berkomunikasi yang ganjil pada sebagian masyarakat kita.

Digital printing sudah lama dikenal terutama oleh masyarakat periklanan. Tetapi harganya saat itu masih sangat mahal. Sekarang ini, ketika printer buatan China merebak, dengan harga Rp.30.000 per meter persegi, semua publikasi cetak luar ruang mengarah ke sana. Selamat tinggal screen printing (sablon) yang terbatas warna-warninya!

Jaman sablon, untuk membuat gambar foto orang (yang bisanya juga hanya sebagian dari muka bidang cetak) memerlukan empat screen yang berbeda untuk menorehkan empat warna dasar cetak cyan, magenta, yellow dan black. Itupun tidak akan terlihat halus jika dipandang dari jarak dekat. Itulah mengapa poster film jaman dulu dilukis langsung di atas kain. Kini, jangankan sebagian, seluruh muka bilboard yang luas diisi dengan gambar orang dan efek visual yang rumit, bisa dicetak sempurna.

Narsis, kata ABG jaman sekarang, untuk menunjukkan aktivitas yang menjurus kepada hal yang membanggakan diri sendiri. Mirip dengan itu sekarang lihatlah di jalan-jalan calon bupati, walikota dan gubernur saling unjuk senyum nampang di poster dan baliho-baliho.Kalau gambar Iwan Fals dipajang dimana-mana, itu pasti bukan atas suruhan dia. Kalau cabup atau cagub? Pasti mereka yang acc.

Masalahnya sebenarnya bukan karena gambar wajahnya, tetapi karena dominan dan over kuota itu masalahnya menurut saya. Buanyaak dan tidak mencerahkan! Paling-paling bikin semrawut kota (lagi). Ayolah, jualan dengan cara yang lebih elegan. Hari gini kok masih begitu. Asal pasang di ruang publik.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s