Membaca Partai Berkomunikasi


Menjelang tahun 2008 menggulung layar, partai-partai justru mulai menebar jala-jala. Berharap mendapat simpati masyarakat, mereka memeras otak membuat ajakan-ajakan dan rayuan yang mereka percaya bisa membuat calon pemilih jatuh hati dan menyuntingnya nanti pada saatnya.

Sayang tak semua ajakan yang manis, peduli, gagah atau santun itu berbuah simpati. Banyak diantaranya yang terkesan dimanis-maniskan, dipeduli-pedulikan, digagah-gagahkan, disantun-santunkan atau dialim-alimkan.

Dari sisi desain, lagi-lagi tak semuanya bisa memanfaatkan teknologi desain grafis dan cetak digital dengan benar. Yang terjadi justru kenorakan yang merajalela. Ada memang yang benar-benar memperhitungkan komposisi, tipografi disamping copywriting yang cerdas.

Ada yang menggunakan teori komunikasi tinggi, canggih dan mahal namun jeblok ditingkat eksekusi, sehingga justru tak berkesan apa-apa selain menyampaikan pesan, “Apa ya, yang baru? So what?”

Partai Demokrat bisa menjadi contoh partai yang gencar berkomunikasi lewat media apa saja. Namun lemah dalam eksekusi. Dalam tayangan TV nyaris tak ada yang mengesankan, baru atau cerdas. Justru ada yang berbahaya dan naif dengan menampilkan anak-anak yang notabene tidak berkompeten dalam dunia politik dalam kampanye. Kampanye partai ini yang menggunakan jaket Koran Kompas tempo hari juga luput dari kesan yang baik. Bagaimana mau dipercaya baik kalau anak sang bos sendiri yang memuji partainya? Komunikasi yang aneh, hari gini masih mengunakan cara ini.

Pesan spanduk dijalan-jalan seolah juga menunjukkan siapa sesungguhnya partai, dan bagaimana orang-orangnya menggerakkan jalannya organisasi. PDIP mengangkat jargon-jargon lawas dan jauh dari inovasi dengan ucapan seperti “Hormatilah Bulan Puasa.” Memasang foto caleg lengkap dengan gelarnya yang panjang bersama ketua partai dan ucapan selamat hari raya juga memperlihatkan kelemahan ide kampanye.

Partai Golkar, kali ini tampil lebih terorganisir dengan spanduk yang rapi dengan desain yang cukup oke. Meskipun pesannya begitu-begitu saja. Partai yang cukup inovatif dalam olah kata adalah Partai keadilan Sejahtera. Ungkapan “Tetangga Kita Tanggung Jawab Kita” adalah contoh pesan yang bernilai kampanye tinggi. Maknanya bisa sangat dalam.

Gerindra, sebagai pendatang baru terlihat percaya diri dan memiliki pesan yang cukup bernilai di media layar kaca. Yang lemah bagi partai ini adalah kepercayaan masyarakat akan kesungguhan dan kebenaran dari pesan mereka.

PAN seperti tahun-tahun lalu selalu bagus di tingkat teknik produksi. Hanya kali ini pesannya kurang bergaung entah mungkin karena kepercayaan masyarakat pada figur pembawa partai ini telah tercederai dengan berita-berita miring beberapa waktu lalu atau apa.

Perang bendera di sepanjang jalan lagi-lagi masih diandalkan oleh partai. Padahal efek bendera ini hanya sampai ditingkat orang jadi kenal saja, bahkan ada yang jadi mengenal bahwa si partai adalah partai yang merusak pemandangan. Partai masih mengandalkan keyakinan bahwa yang punya bendera terbesar, tertinggi dan terbanyak akan dikenal dan didukung. Padahal kenyataannya tidak. Apalagi kalau besarnya, tingginya dan banyaknya bendera dikaitkan dengan kesungguhan dan kepintaran mengelola negara, tentu tak ada korelasi sama sekali.

Tapi siapa peduli, kampanye kan tidak ada hubungan dengan tetek bengek kesungguhan mengelola negara ini. Ya kan?***

One thought on “Membaca Partai Berkomunikasi

  1. “Tapi siapa peduli, kampanye kan tidak ada hubungan dengan tetek bengek kesungguhan mengelola negara ini. Ya kan?***”

    ini min yang sepertinya tidak pernah dipikirkan oleh partai manapun. mereka menjanjikan ini itu di kampanye, memberikan kata-kata manis serta eksekusi dengan model apapun yang bagus dan canggih, atau istilah kamu “tinggi” namun tidak ada yang berfikir untuk menunjukkan bukti. Bukti di sini saya artikan sama dengan kinerja produk (kualitas) yang diklaim di iklan atau apapun tetek bengek moda komunikasi yang dipilih. Coba kita menengok ke kampanye komersial, contoh sabun cuci piring lah…. kalo mereka bilang mr. muscle membersihkan kotoran paling lengket sekalipun dalam satu tetes saja, nah itulah yang mendorong orang akan mengevaluasi kualitas kinerja produk mr. muscle. kalo meleset, konsumen tidak akan beli lagi. nah partai juga gitu kan sebenarnya… kalo mereka “bilang bersama kita bisa” seharusnya aspek “kebersamaan” itulah yang harus manjadi karakter utama partai dalam beraksi. baik yang sifatnya internal maupun internal, dan sekaligus menjadi positioning mereka. Itulah yang seharusnya membedakan dengan partai yang lain.
    Nah itu yang gak ada. gak ada kaitan antara klaim mereka di kampanye dengan cara mereka beraksi. Lha akhirnya dalam beraksi selama 5 tahun, ya sama aja. Korupsi satu korupsi semua.
    Anehnya, fraksi A di DPR menentang policy X, eh menteri mereka di kabinet mendukung policy X. Sangat tidak masuk akal. Terkait dengan materi kampanye, kan voter akan bingung dengan hal ini. Btw kalo pada masa kampanye biasanya mereka berusaha tampil “beda” mirip sandiwara gitul. Tapi di masa pembuktian semua ingkar janji. Nah itu min….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s