Batavia Air vs (Majalah) Tempo!


Tanggal 23 Oktober yang lalu dalam sebuah perjalanan, tepatnya di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin saya membeli majalah Tempo edisi terakhir minggu itu dengan tajuk “Bisa-bisa Kita Tak Bersama.”

Ada dua hal yang menarik. Pertama, didalamnya terdapat laporan ringan tentang perjalanan mereka 10 tahun terakhir sejak 1998 setelah dilarang terbit Suharto pada tahun 1993. Kedua, bonus poster bergambar sampul-sampul majalah itu yang disusun sedemikian rupa menjadikannya menantang untuk dipigura.

Sudah lama saya tidak membeli majalah ini. Jadi harga eceran terakhir tidak masuk dalam pengetahuan saya, jadi harga Rp. 40 ribu, langsung saya bayar. Cash. Jreng, kata orang Jawa.

Sayang seribu sayang, impian membingkai poster bonus Tempo melayang, karena sang poster salah potong sejak dari percetakan. Kasus salah potong seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Di percetakan, setelah keluar dari mesin offset, hasil cetakan dipotong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Dalam tumpukan kertas setebal lebih dari 10 cm itu kadang ada kertas yang tersusun dalam posisi yang tidak seharusnya sehingga hasil potongannya keluar dari paskres (ini bahasa tukang cetak bung!, bahasa desainnya Trim Marks, atau penanda potongan) yang telah ditetapkan.

Sesampai di Jakarta, tiba-tiba saya punya ide menelepon bagian sirkulasi majalah ini. Tujuannya hanya satu, melaporkan adanya konsumen yang menerima barang cacat, kemudian mendengarkan apa yang akan dilakukan oleh sang penerima telepon.

Terus terang saya agak trauma dengan pelayanan konsumen di negeri ini. Apalagi mengingat perjalanan saya seminggu kemarin yang diwarnai penundaan-penundaan penerbangan Batavia Air dari Balikpapan ke Banjarmasin, dari jam 4 sampai setengah tujuh malam. Kata orang itu mah sudah biasa, jangan kaget apalagi marah, katanya. Duh!

Reaksi pertama sang penerima telepon di bagian sirkulasi, agak merisaukan saya karena beliau tidak mengerti bahwa di edisi ini ada bonus posternya. Wah, alamat kurang mengikuti produk, nih. Tetapi untunglah, kesabarannya menghadapi saya yang agak sinis soal ketidak tahuannya itu ditambah janjinya mengirim satu eksemplar majalah pengganti berikut posternya cukup mendinginkan suasana.

Hari Jumat tanggal 31 November, saya menerima amplop berisi satu eksemplar majalah dengan sampul hijau bergambar kartu raja SBY JK dengan tulisan „Bisa-bisa Kita Tak Bersama,“ setelah mengecek bagian dalamnya, poster dengan potongan yang benar tersenyum pada saya! Cling!

Ternyata Majalah Tempo berbeda dengan maskapai yang kemarin itu. Tapi saya terkejut, oh … harga eceran Majalah Tempo ternyata Rp. 24.700 saja to!***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s