Strategi Komunikasi Pada Saat Krisis


Setiap kali kita masuk ke area gedung bertingkat, hampir selalu ada daerah yang diberi tulisan ‘evacuation area’ atau ‘assembly area.’ Tanda itu menunjukkan bahwa yang mengelola gedung telah menyiapkan salah satu perangkat pengendali pada saat terjadi keadaan darurat atau krisis.

Area evakuasi adalah sebuah sarana fisik dalam keadaan darurat persiapan fisik seperti ini biasanya dilakukan oleh departemen Safety. Lalu apa laku dengan kita yang mengurusi komunikasi, bagaimana mempersiapkan perangkat jika perusahaan atau organisasi berada dalam kondisi krisis?

Bagaimana sebuah keadaan dikatakan krisis? Apapun penyebabnya, apapun bentuk eskalasinya, keadaan yang membahayakan perusahaan, menimbulkan potensi kerugian baikmateri, nama baik atau reputasi secara drastis bisa masuk dalam kategori krisis.

Siapa yang berhak menyatakan sebuah kondisi dikategorikan krisis adalah sebuah gugus kerja yang dibentuk oleh perusahaan bersama dengan gugus yang mengurusi komunikasi, menghandel masalah IT dan gugus manajemen puncak yang bertugas mengambil keputusan secara cepat dan efisien. Keempat elemen ini harus siaga manakala dering krisis berbunyi di dalam perusahaan.

Perusahaan yang waspada biasanya jarang mencapai tingkat krisis, karena sebelum mencapai titik itu, maslah sudah diatasi terlebih dahulu. Di sinilah peran issue-management sebuah perusahaan atau organisasi sebagai sebuah kegiatan yang bersifat terus menerus memantau krisis sejak dari embrionya.

Apapun, bencana yang tiba-tiba terjadi atau kecelakaan yang terjadi di luar  kendali manusia, tetap saja berpotensi membawa perusahaan dalam keadaan krisis. Lalu dimana peran komunikasi saat itu terjadi?

Suasana krisis menimbulkan dorongan bagi semua orang untuk mencari kejelasan informasi secepat-cepatnya dan seakurat-akuratnya. Media memalingkan mata dan telinga ke wajah kita, sehingga khalayak selalu memantau apa pun yang kita lakukan saat itu.

Tim Komunikasi saatnya mengambil tempat untuk menangkap informasi dari luar dan dalam, melakukan verifikasi dan menyerahkan kepada gugus manajemen untuk mendapatkan tindak lanjut serta mengolah kembali segala keputusan, langkah dan tindakan serta update informasi tersebut menjadi sebuah pesan yang jelas dan bernilai bagi perusahaan dan khalayak.

Bentuk output dari Tim Komunikasi Krisis biasanya berupa press release, statement perusahaan dan pernyataan-pernyataan resmi yang diberikan kepada khalayak.

Bagaimana merancang sebuah tim seperti ini? Tiap perusahaan memiliki kebijakan, cara dan metode tersendiri bergantung kepada kebutuhan mereka. Tetapi yang paling mendasar adalah adanya sebuah sistem yang sederhana untuk memanggil, mengaktivasi dan menjalankan kerja dari tim ini. Disamping itu latihan yang terus menerus akan membuat gugus komunikasi krisis akan terpola pada kondisi siaga saat terjadi krisis yang sesungguhnya. Meskipun semboyan pelatihan emergensi selalu: mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk tidak pernah digunakan!***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s