Membaca Wayang Sepanjang Usia


shadow-puppet

…  sebenarnya dalam dunia perfilman dunia, sementara ahli mengakui bahwa wayang atau shadow puppet ala Jawa, bisa dikatakan sebagai bentuk awal dari film modern. Keberadaaanya dibahas sejajar dengan camera obscura dan teknologi awal lain yang akhirnya melahirkan film modern. ———————————————————————————————

Wayang kulit bagi saya adalah sesuatu yang dekat sekaligus jauh. Dekat karena kami, anak-anak Jawa sudah harus mengerti tokoh-tokoh wayang sejak SD, karena itu adalah bagian dari pelajaran bahasa Jawa, atau bahasa ’daerah’ (Jangan tanyakan lagi mengapa daerah bisa bermakna ’diluar Jakarta’).

Dekat karena di Kulonprogo, daerah kami tinggal, ada seorang dhalang yang amat sangat populer pada masa itu, Ki Hadi Sugito. Kini beliau sudah almarhum. Soal Ki Hadi Sugito, kami tua muda sepakat bahwa dialah dhalang terbaik, dengan suara yang gandem, dan suluk yang merdu. Meskipun akhirnya saya tahu bahwa kelebihan (atau kekurangan, menurut para penganut pakem atau tata cara bercerita yang ada di wilayah mainstream) Hadi Sugito adalah cara berceritanya yang slengekan, meminjam istilah remaja tahun 90-an untuk menyebut gaya yang keluar aturan.

Dekat, karena siaran wayang kulit semalam suntuk via radio adalah makanan mingguan kami. Hampir semua radio AM pada tahun-tahun 80-an di Jogjakarta selalu mengagendakan acara seperti ini. Setiap rumah di desa kami akan terdengar siaran yang sama sepanjang malam itu. Saya sendiri harus ngeloni radio sampai diambil Bapak karena takut besok paginya kesiangan untuk sekolah.

Tetapi betapa sesungguhnya wayang kulit adalah sesuatu yang jauh dari kami yang tinggal 10 kilometer dari kediaman Ki Hadi Sugito, 15 kilo dari Wates dan 35 kilo dari Siti Hinggil keraton Ngayogyakarta. Jauh karena seingat saya sepanjang tahun 1979 – 1990 hanya ada satu atau dua kali pertunjukan wayang kulit di kampung kami. Sebagai perbandingan, hampir setahun 2 kali ada pertunjukan ketoprak di kampung kami. Belum ketoprak tobong yang digeber sebulan penuh sepanjang bulan syawal. Wayang kulit live menjadi sesuatu pertunjukkan yang mewah bagi kami saat itu. Di kecamatan kami, Galur, ada dhalang lokal namanya Pak Suhardi Hadiguno. Dari anak Pak dhalang ini saya tahu bahwa untuk mengakses pertunjukkan wayang secara rutin, ia harus bersepeda motor ke Siti Hinggil. Wah, buat saya itu menambah lagi daftar kemewahan untuk menonton wayang! Bersepeda motor sama dengan bermobil di desa kami.

1992

Tinggal di Semarang, peta wayang kulit jadi semakin jelas bagi saya. Saat itu di kantor Gubernur Jawa Tengah setiap malam Kemis Legi atau di Taman Budaya Raden Saleh, selalu ada pentas wayang kulit dengan deretan dhalang kondhang dari pelosok Jawa Tengah. Dari pentas itulah saya akrab dengan sabetan setan Ki Manteb Sudharsono, olah tata bahasa berkelas gaya Ki Anom Suroto, sampai gaya edan-edanan (gila-gilaan) ala Joko “Edan” dari Semarang. Wayang kulit saat itu terasa lebih dekat dengan saya. Gaya Jogjakarta yang selama ini saya kenal dari Mbah Gito atau Ki Timbul Hadiprayitno terasa jadi masa lalu. Apalagi eksperimen wayang di Jawa Tengah lebih maju dengan tata lampu dan tata suara yang canggih.

Di panggung wayang Semarang-lah kolaborasi dua dhalang, kombinasi dengan panggung wayang orang (meski sebatas Punokawan) saya kenal. Pertunjukan wayang terasa hingar bingar, bercahaya, dan akrab dengan penguasa.

Adiluhung

Tetapi bersamaan dengan itu timbul pertanyaan besar dalam kepala saya setiap kali Pak Dhalang memuji dirinya sendiri sebagai agen budaya yang tinggi dan luhur yang sering disebut adiluhung.

Terus terang saya bergidik mendengar ungkapan itu. Pengertian adiluhung dalam konsep Pak Dhalang adalah campur baur antara kerumitan tata seni sabetan, suluk, tembang, sastra, gamelan, dan seterusnya sehingga makna filosofis dari adiluhung yang meliputi ketinggian budipekerti menjadi seolah tersisihkan. Dengan kata lain, tatkala sebuah pertunjukan wayang sudah mengerahkan seluruh pencapaian seni tadi, maka tercapailah standar adiluhung. Atau jangan-jangan karena dulunya seni wayang memang benar-benar agung, sakral dan suci sehingga siapapun yang bisa memainkan wayang bisa mengklaim dirinya adiluhung.

Saya bergidik karena melihat hipokrisi yang dahsyat dalam ungkapan adiluhung oleh seorang dhalang. Bagaimana bisa para sesepuh (orang yang sudah sepuh baik umur maupun ilmunya itu) mengklaim dirinya sgen budaya tinggi manakala pertunjukannya tak lepas dari celotehan bernuansa mesum, ungkapan sanjungan berlebihan terhadap penguasa entah Gubernur atau Pangdam bahkan yang lebih parah lagi sementara dhalang menciptakan karakter baru diluar kebiasaan yang amat sangat jelas menggambarkan alat kelamin manusia. Daftar ini bisa panjang jika adiluhung juga dikaitkan dengan perilaku keseharian sang agen budaya tinggi ini. Itu catatan saya saat itu. Tahun 1993-an.

Wayang Go Internasional

Sekarang ada organisasi yang namanya APA (Asian Puppet show Associations). Organisasi yang beranggotakan penggiat kerja wayang dan pentas boneka se Asia. Baru-baru ini mereka melakukan konferensi di Jogja, dengan mengundang delegasi dari Jepang dan China sebagai nara sumber diskusi. Agenda terdekat organisasi ini adalah akan menerbitkan sebuah buku yang berisi informasi mengenai wayang di Asia. Sebagai sebuah karya budaya, wayang memang layak di pertahankan dan dikembangkan lagi. Ingat apa yang dikerjakan Arswendo dengan wayang animasinya. Atau wayang suket yang menyederhana tapi lebih menonjol sentuhan instalasinya?

Kreativitas berbasis wayang secara visual maupun ceritanya bisa jadi telah jauh berkembang tanpa sepengetahuan kita. Hadirnya APA dengan kegiatannya pasti akan mendorong lagi dunia wayang menjadi lebih dahsyat dimasa depan.

the-world-of-cinemaApalagi sebenarnya dalam dunia perfilman dunia, sementara ahli mengakui bahwa wayang atau shadow puppet ala Jawa, bisa dikatakan sebagai bentuk awal dari film modern. Keberadaaanya dibahas sejajar dengan camera obscura dan teknologi awal lain yang akhirnya melahirkan film modern. Buku yang menulis ini judulnya The World of Cinema.***

5 thoughts on “Membaca Wayang Sepanjang Usia

  1. Saya juga amat suka dengan budaya wayang, apalagi setelah belajar agama dengan cara yang berebda dg kebanyakan orang, dimana saya mencoba belajar memahami ajaran ajaran orang orang terdahulu, termasuk para wali, masya Allah…….
    betapa hebatnya para wali memeparkan ajaran dengan memanfaatkan budaya tanpa keluar rel dari ajaran sejati yg mau disampaikan yaitu al Quranul Karim…
    misal hakekat pendowo yang limo, sejatinya adalah gambaran perjalanan seorang manusia dari sejak dilahirkan (wujud) menjadi

    nakulo sedewo :
    gambaran sosok kembar jasmani dan ruhani
    JANOKO :
    sebagai gambaran manusia yang sudah mulai akhil baliq memiliki berbagai macam tujuan dan citacita, ada yg panjang (tergambar sebagai petruk) ada yang pendek (digambarkan sebagai bagong), kemudian ada cita cita yang panjang tapi tidak tercapai (digambarkan sebagai Gareng), cita cita luhur dan bijaksana (Semar)

    BIMO
    untuk mencapai cita cita harus diperjuangkan dengan kokoh dan kuat dalam pendirian walaupun berbagai aral menghadang, demi mendapatkan ilmu sejati (bertemu dengan Dewa ruci)

    PUNTADEWO
    Gambaran manusia yang sudah pada makom puncak pengamalan ilmu sejati, jadilah ia sosok manusia insan kami (manusia paripurna)

    Demikian lakon hidup manusia tersebut diurai dalam 1002 lakon oleh Kanjeng SUnan Kalijogo.
    SUbhaaaanalah,
    semoga kita tetap mencintai wayang dan hikmah ajaran yang terkandung di dalamnya
    bukan hanya sekedar tampilannya.
    salam

    ——————————————————

    @ Mazadjie:
    Wah sepertinya Mas Adjie ini ngangsu kawruhnya Njeng Sunan Kalijaga. Mungkin yang tersirat dari apa yang saya sampaikan dalam posting diatas, kesejatian ilmu Islam dalam wayang yang Masadjie sampaikan itu sependek penglihatan saya saat menikmati wayang, tidak atau belum kelihatan di jagat pakeliran kita. (Atau bisa jadi saya yang bebal sehingga tidak bisa menyerap hikmah dari lakon-lakon wayang yang ada.) Yang ada justru akhirnya saya pertanyakan dalam tulisan saya mengenai klaim mengenai Adiluhung seperti posting diatas.

    Tetapi bagaimanapun, pendapat saya itu tetap tidak mengurangi rasa bangga saya terhadap seni pewayangan kita.

    Mungkin Mazadjie bisa memberi pencerahan soal ini, dan juga mengenai filosofi Islam dalam wayang itu bagaimana mulabuka-nya dihubungkan dengan cerita wayang sendiri yang setahu saya lahir dari budaya Hindu India. Meskipun apa yang Mazadjie sampaikan juga pernah saya dengar … yaitu berhubungan dengan bagaimana Njeng Sunan berdakwah melalui media ini. Salam.

  2. Sayang saya belum lama mencoba belajar memahami tentang ajaran sunan melalui wayang ini. sehingga mungkin belum banyak yang bisa saya share, mohon maaf.
    supaya saling melengkapi diantara kita, disini saya lebih tertarik membahasa kepada obyek wayangnya bukan sang Dhalang,….

    Kesimpulan sekilas dari keterangan yang saya terima dari guru saya :
    Betul, wayang asalnya dari india (hindu) dengan kisah yang terkenal dengan kisah “ramayana” dan “mahabarata”, namun kala itu bentuknya belum seperti sekarang ini, wayang kulit yang sekarang kita nikmati sudah mengalami banyak campurtangan dan merupakan hasil gubahan dari SUnan Kalijogo atas restu Sunan Bonang dalam rangka memasukkan ajaran islam melalui budaya bangsa kita khususnya masyarakat jawa.
    Mulai dari bentuk Kelir, Blencong, gunungan, kotak, wayang, gamelan serta uberampe lainnya serta lakon wayang sudah mengalami banyak perubahan dan penuh dengan sentuhan islami, khususnya ajaran Sufi (tasawuf)

    Sebagai misal :
    Blencong (matahari), Kelir/geber (dunia), Kotak (bumi) Gunungan (gambaran tentang takdir), Kayon (kehidupan), gamelan yang didonimasi dengan suara Ning (bening), Neng (Meneng), Nung (dunung) dan Nang (Menang) Nong (Manong).
    Wayang sendiri memiliki arti ayang ayang (bayangan) jadi bumi langit dan segala isinya ini hanya merupakan bayangan dari dzat yang maha Hidup (hayat) yang segalanya telah tertulis dalam suratan takdir (gunungan), oleh karena itu selalu lakon wayang diawali dengan geraknya gunungan. Wayang dengan lakon kebaikan akan ditaruh disebelah kanan sebagai Ashabul Yamin dan wayang dengan lakon keburukan ditaruh sebelah kiri sebagai Ashabul syimal

    Tentang Lakon wayang misalnya :

    Semar Mbangun Kayangan
    Kalo kita amati dg cermat mengandung makna ajaran tentang lepas sangkan paraning dumadi atau disebut Sastro jendro hayuningrat pangruwating diu (bawono) dalam bahasa Alqur’an adalah Inna lillahi waina ilaihi roji’un..dalam bahasa jawa mungkin lebih familiar disebut Ilmu sejati (mengenal jati diri manusia)
    darimana kita berasal ?
    buat apa kita ada ?
    kemana kita akan menuju ?

    Dewa Ruci.
    Kisah perjalanan mencari sejatining urip, kisah ini hampir mirip dengan kisah diatas, mencari sejatining urip melalui jati diri (man Afofa Nafsahu Faqot arafa nafsahu – barang siapa mengenal dirinya dia akan mengenal Tuhannya)) hanya saja ini pelajaran diberikan kepada sosok manusia pada makom “Bimo”, yang polos/jujur, kokoh dalam pendirian (dilambangkan dg kuatnya Kuku Ponconoko), khusnudzon, hormat kepada sang guru (walaupun ditipu dan dijebak), gigih/ulet, berani susah payah berjuang (hutan belantara di terjang, gunung dilangkahi, lautan disebrangi, demi mencari kebenaran hakiki (mutlak), yaitu Al Haq. Makom Bimo (broto seno) merupakan makom lebih tinggi (sudah kokoh dan fokus, madhep manteb karep mencari kamulyaning urip) dibanding dengan makom Arjuno (yang masih kebanyakan cita cita : Panjang, pendek, mlungker dan kemulyaan)

    kalo diceritakan detail….. wah bisa panjang sekali
    dua lakon diatas menurut pendapat saya sarat sekali dengan intinya ajaran islam. silahkan dicermati dengan teliti dan seksama, saya sangat merekomendasikan.

    BTW bila wayang dikatakan memiliki ajaran adiluhung (NB: jangan melihat sang dhalang) , itu karena wayang adalah salah satu media bagi wali kala itu untuk menyampaikan wahyu alqur’anul karim yang berisi piwulang tentang akhlakul karimah.

    Segitu dulu Paklik yang bisa saya sampaikan, nyuwun sewu bukan saya bermaksud menggurui. betul saya hanya ingin sharing supaya kita saling melengkapi. tulisan paklikpun akan menjadi khasanah pustaka bagi saya

    semoga manfaat buat kulo lan penjenengan
    amin
    wassalam

    • Memperhatiakn kedahsyatan anda dlm memahami pengetahuan othak/gathik gayuthaning agama dengan wayang ,mungkin bisa di sambungkan,namun berat bila di ajarkan karena nanti kurang kaffah,padahal kita tahu nanti akan menjadi campur aduk pemahaman suluk ibadahnya.karena para Sunan Ngrakit susunan lakon itu adalah pergeseran pemahaman dari Agama hindu ke Islam jadi pemahaman adalah agar trek perpindahan dari agama hindu ke islam tidak zero,tapi stabil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s