Mengkomunikasikan Garis Wallace


Tanggal 11 Desember 2008 yang lalu, Kompas memberitakan tentang niatan pemerintah Sulawesi Selatan untuk membuat monumen Wallace di yang terletak sisi timur pulau Sulawesi ini. Niatan ini berbarengan dengan diselenggarakannya Konferensi Internasional ”Alfred Russel Wallace and The Wallacea,” di Makassar, 10-13 Desember 2008. Apa yang menarik dari peristiwa ini?

Pertama, hampir dipastikan banyak sekali diantara kita yang sudah tidak ingat lagi atau bahkan tidak tahu siapa, apa atau bagaimana kata Wallace itu menjadi penting. Kedua, bagaimana selayaknya kita memperlakukan nama itu bagaimanakah bentuk monumen itu nantinya?

Untuk poin yang pertama, saya juga bagian dari masyarakat yang tahu serba sedikit soal Garis Wallace. Berita di Kompas itu seperti mesin pengingat yang menjalankan rajutan ingatan-ingatan kebelakang mengenai Garis Wallacea. Perjalanan secepat kilat itu berhenti di simpul ingatan tentang teori Darwin (yang masih terus mengandung kontroversi sampai detik ini), kemudian kisah persebaran fauna di Indonesia serta yang paling mutakhir dalam memori saya, adanya fosil Ichtyosaurus (sejenis ikan purba dari jaman Kambrium kurang lebih 550 juta tahun yang lalu) yang pernah ditemukan di kepulauan Seram, Maluku. Fosil ini sampai kini masih tersimpan di Museum Geologi, Bandung, bersama fosil lain yang menyimpan jutaan informasi menarik tentang masa lalu bumi kita.

Baca lebih lanjut

Iklan