Memilih Portrait daripada Lanskap


Dilepasnya banyak bendera, baliho dan segala macam jenis atribut parpol adalah berita yang menggembirakan untuk para pecinta keindahan kota. Space terasa lebih lega dan sudut-sudut kota bisa bernafas lagi. Namun hilangnya pemandangan ‘gombale mukiyo’ itu kembali menampilkan wajah lain yang tak kalah memprihatinkan: centang perenang bilboard permanen dan papan penunjuk atau sign board!

Iklan luar ruang dan wajah kota memang dua hal yang tidak terpisahkan di kota manapun di dunia. Tetapi kehadirannya yang saling tidak memperhatikan space, komposisi dan tata ruang, membuatnya menjadi ciri buruk sebuah kota. Di negara ini kita masih merindukan ada kota yang sadar untuk mengatur pemasangan iklan luar ruang dengan tegas dan mengabdi pada keindahan kota.

Lanskap vs Portrait

Advertensi luar ruang ala Tokyo yang indah ini saja masih sering di permasalahkan  oleh ahli perkotaan, sehubungan dengan kenyamanan publik.
Advertensi luar ruang ala Tokyo yang indah ini saja masih sering di permasalahkan oleh ahli perkotaan, sehubungan dengan kenyamanan publik.

Billboard, selain pemasangannya yang sering saling tumpang saling tindih, juga acap kali terpaku pada bentuk lanskap yang memakan banyak ruang. Padahal jika bentuk portrait yang dipakai, bisa jadi akan lebih banyak ruang yang dihemat dan tampak lebih rapi. Di beberapa kota bahkan kini populer dengan billboard yang mengangkangi jalan raya. Dari segi keindahan, keamanan dan kenyamanan bilboard model ini sesungguhnya cukup memprihatinkan, meskipun mungkin dianggap sebagai sebuah inovasi dalam beriklan luar ruang.

Bilboard yang sesungguhnya bisa mempercantik, dengan pemasangan yang asal membuatnya seolah riasan coreng moreng di wajah kota.
Bilboard yang sesungguhnya bisa mempercantik, dengan pemasangan yang asal membuatnya seolah riasan coreng moreng di wajah kota.

Pilihan bentuk billboard yang dipasang di tengah kota menjadi portrait, hanyalah salah satu poin dalam pengaturan ‘komposisi ruang bilboard.’ Aspek yang lain tentu saja adalah kesadaran ruang yang harus dipahami oleh para agency dan penguasa kota sebagai pihak yang memiliki kuasa untuk mengatur keberadaan billboard. Saat ini yang terkesan adalah kuasa pemerintah untuk menarik pendapatan saja dari advertensi luar ruang ini. Tak terlalu peduli dengan tata ruang, pajak saja yang di utamakan. Kejadian ini merata dari Jakarta sampai kota-kota lain di Indonesia.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s