Seandainya Tak Ada yang Dibuat-buat


Image. Citra. Seolah-olah adalah satu-satunya yang diperjuangkan dalam komunikasi. Secara serampangan image menjadi kata kunci dalam proposal-proposal program humas, PR dan sejenisnya. Akibatnya hari ini terlihat di Kompas, perusahaan-perusahaan berusaha membuat gambar untuk menunjukkan citra: nasionalisme.

Karena mitos tentang citra yang terlanjur meracuni, maka yang muncul diantaranya adalah upaya Gudang Garam menampilkan sebuah ekspresi semangat dalam foto sefia segerombolan anak muda yang didandani ala pejuang 45. Mulutnya rata-rata menganga dan tangan mengepal dengan harapan menimbulkan image semangat, seperti aslinya.

Alih-alih aura semangat yang muncul, foto ini justru seperti ekspresi anak ABG berlatih drama: ada yang terlihat ogah-ogahan, jenaka, bahkan justru mimik agak absurd. Dari segi dramaturgi, perancang iklan ini lupa bahwa sesungguhnya semangat itu bukan ada di mulut dan kepala tangan … melainkan sorot mata.

PR Telkom tampil lebih cerdik, mengatasi masalah ini dengan mengambil anak-anak sebagai model. Anak-anak lebih sinkron antara ekspresi mulut, tubuh dan matanya. Maka kesan yang muncul dari foto anak-anak Telkom hari ini adalah: kepolosan dan kegembiraan. Tetapi apakah senyum anak itu bertahan lama, sampai jauh setelah mereka diminta tersenyum oleh fotografer? Ini pertanyaan yang paling penting.

Citra atau image seharusnya tidak perlu digenerate sedemikian mahal dan artifisial. Bagaimana kalau perusahaan benar-benar saja melakukan darma bakti pada lingkungan. Maka bukan image atau citra yang akan mengemuka — karena image atau citra, secara bahasa lebih bermakna “bayangan” atau “kepalsuan” — melainkan reputasi. Karena yang dikabarkan sesuai dengan yang terjadi.

Jadi ingat kata Rendra: Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata! Jangan obral kata-kata (doang). Mungkin ini seharusnya semboyan praktisi komunikasi.***

2 thoughts on “Seandainya Tak Ada yang Dibuat-buat

  1. Memang kegelisahan semacam itu yang seringkali muncul di kepala saat melihat dan melakoni sebuah kegiatan komunikasi. Sebenarnya membuat program komunikasi yang lebih membumi itu bukan sesuatu yang mustahil lho.

    Logikanya begini, kalau program komunikasinya efektif berarti bajetnya efektif juga berarti tolok ukurnya jelas. Jadi perusahaan tak sayang mengeluarkan cost untuk ini.

    Lain kalau Komunikasi Pemasaran, bajetnya kan dibayar sama konsumen??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s