Exhibition, Expo a.k.a Pameran


Catatan awal: Banyak istilah bahasa Indonesia yang lebih dikenal atau bahkan digantikan dengan bahasa Inggris, jadi “also known as” atau “aka” boleh dong dipakai di sini untuk menyebut Pameran yang lebih populer disebut Exhibiton atau Expo sekarang ini.

Expo bisa diartikan sebagai bentuk singkat dari Exposition yang bermakna pameran atau pembentangan. Secara umum Expo diartikan sebagai trade fair atau pameran perdagangan. Wah, kita ketemu lagi dengan kata yang sulit diterjemahkan: Fair. Gampangannya sih: pekan raya.

Yang belum tahu, pekan = pasar. Lho lalu akhir pekan = akhir pasar? Dalam keseharian orang Jawa (ini hanya kebetulan saya tahunya keseharian orang Jawa, bukan berniat jawasentris), hari pasaran Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon adalah hitungan satu minggu mereka. Jadi pekan bisa saja bermakna satu minggu dalam hitungan mingguan (pasaran) Jawa. Tetapi sudahlah, akhir minggu ala Hijriah dan Masehi disebut pula akhir pekan.

Agar tidak disalahkan, saya harus sampaikan 5 hari ala jawa (Pancawara) adalah warisan kalender Jawa kuna berbasis Saka. Sedangkan mingguan hijriah yang sama dengan masehi dipakai atas perintah Sultan Agung dalam rangkaian adopsi budaya Islam di Mataram. Jadi sekarang di Jawa orang menamai sebuah hari dengan dina (hari) sekaligus pasarannya, misal: Senin Legi, Jumat Kliwon dst.

Oya, perihal pekan yang diterjemahkan sebagai pasar, bisa jadi karena di Jawa pasar dalam bahasa yang lebih tinggi (krama) disebut peken (baca seperti melafalkan: ‘peuyeum’). Pasar-pasar dibuka berdasarkan hari Pancawara itu. Misalnya Pasar Kliwon, hanya aktif pada hari Kliwon. Demikian pula pasar Wage, pasar Pon, pasar Legi dan pasar Pahing. Itulah mengapa hari Pancawara disebut juga hari ‘pasaran.’

Tentang Pameran.
Jadi kita tinggalkan saja Pekan, Pasar, Fair dan carut-marutnya, kita sebut saja ia dengan pameran.

Pameran adalah sebuah bentuk komunikasi yang unik. Perusahaan mengalokasikan biaya besar untuk ikut dalam kegiatan serupa ini. Di Indonesia sebut saja Motor-Show, Inacraft, IITELMIT, Indonesia Book Fair, Mining Indonesia, Islamic Book Fair, Real Estate Expo, dan jangan lupa Jakarta Fair sebagai ajang pamer yang bergengsi serta Job Fair sebagai trend baru yang padat pengunjung. Belum lagi pameran lain yang membuat ruang pamer seperi JCC, JIE atau tempat lain seperti Balai Kartini, Semanggi Expo dan kini Smesco padat agenda.

Keunikan pameran terletak dari beberapa hal, diantaranya:
1. Mitos mengenai tingginya efektivitas pameran dalam kegiatan image leveraging maupun branding bahkan marketing yang membuat perusahan rela membayar mahal.
2. Paradox pameran antara idealisme dan praktik sering mengemuka.
3. Polarisasi kepentingan EO dan Exhibitor.

Mitos tentang potensi naiknya image perusahaan bahkan penjualan dalam sebuah pameran, dikemas sedemikian rupa oleh EO sehingga perusahaan teryakinkan untuk ikut serta. Padahal EO sesunguhnya bermain “cantik” dan sangat aman dengan hanya mengatakan bahwa pameran ini akan dihadiri oleh sekian orang trader, sekian orang potensial buyer namun semuanya di serahkan kepada peserta. Ibarat reaksi kimia EO hanyalah katalisator yang tak bisa dan tak mau dipersalahkan atas kegagalan pemasaran dalam pameran.

Beberapa pameran memang memiliki nilai strategis namun banyak yang lain tak lebih dari kegiatan yang tidak memiliki akar pemikiran marketing maupun komunikasi yang matang. Menurut penulis, pameran yang memiliki nilai strategis misalnya: PRJ sebagai ajang promosi produsen consumer-goods karena tingkat kunjungan yang tinggi, Mining Indonesia yang mempertemukan supplier alat berat pertambangan dengan pembelinya, Book Fair yang menghadirkan pengunjung tersegmentasi, motor karena perhatian media yang sangat tinggi, sedang pameran yang lain bisa dikatakan menyenangkan pengunjung dan EO daripada bermanfaat bagi exhibitornya.

Apalagi pameran yang dibuat untuk memenuhi keinginan pejabat tertentu. Keinginan seperti ini ini bisa diakomodasi dengan menyelenggarakan pameran tertentu dengan tema titipan, atau dengan memaksakan institusi tertentu (biasanya Pemda) ikut dalam pameran seperti lingkungan, ekonomi mikro, kerajinan bahkan PRJ sekalipun tetapi sayangnya pengorganisasiannya kurang profesional dan tema standnya kurang tajam.

Jadi perusahaan, jika tidak waspada bisa terjebak pada pameran yang tidak bermanfaat. Jauh dari tujuan pameran yang ditawarkan. Apalagi ditambah jika EO menelenggarakan pameran dengan sembrono, semisal pameran lingkungan tetapi justru banyak menghasilkan sampah tidak ramah lingkungan , pemborosan energi listrik dan sebagainya. Inilah Paradox antara idealsime dan praktek pameran.

Sedangkan perbedaan kepentingan EO dengan Exhibitor yang terlampau jauh biasanya menghasilkan sebuah konsep pameran yang tidak efektif. EO hanya berpikir bagaimana menjual space, sementara Exhibitor ingin membuat pameran eksklusif yang berwibawa. Jika kesenjangan yang terjadi, maka tak heran jika judul di depan adalah pameran industri pertambangan tetapi di dalam isinya stand penjual tempe goreng dan minyak gosok. Yang penting space laku terjual. Sudah.

Pameran harus menjadi simpul sebuah aktivitas besar di dalam masyarakat sehingga ia menjadi strategis sekaligus bermanfaat. Setidaknya, jika perusahaan mengagendakan sebuah pameran, sejauh mungkin sinergikan dengan aktivitas itu, misalnya launching produk, penganugerahan sesuatu, pemberian beasiswa dan seterusnya.

EO biasanya mengaitkan pameran engan seminar dan penganugerahan prestasi tertentu. Sebagai sebuah event hal ini baik, tetapi alangkah bermanfaatnya jika pameran menjadi simpul sebuah gerakan di tingkat massa yang luas dan nyata.

Ada trik EO yang cukup naif tetapi ternyata menarik bagi perusahaan atau institusi untuk ikut dalam sebuah pameran, yakni: memberi penilaian stand atau booth untuk dipilih menjadi peserta pameran terbaik! Terserah Anda menilai gimmick seperti ini.

Merencanakan Sebuah Pameran
Untuk bisa membuat pameran yang manfaatya sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan, berikut ini adalah poin-poin yang bisa membantu menentukan keikutsertaan perusahaan dalam sebuah pameran.

1. Periksa tema pameran apakah benar-benar sesuai dengan kepentingan perusahaan? Jangan berpikir hanya demi sebuah ide komunikasi yang menawang-awang perusahaan kita sarankan ikut pameran. Kredibilitas Anda sebagai penjaga gawang komunikasi perusahaan sangat dipertaruhkan.

2. Cek biaya-biaya dan bandingkan dengan hasil yang bakal dicapai.

3. Periksa siapa penyelenggaranya, track recordnya.

4. Adakah kaitan dengan kegiatan massal perusahaan? Usahakan ini menjadi syarat utama.

5. Apa kegiatan massal atau sosial EO untuk mendukung acara ini. Nilailah, apakah acara tersebut cukup tajam dan mendasar atau hanya gimmick pameran saja?

6. Evaluasi dengan keras dari keikut sertaan tahun sebelumnya.

7. Berapa kunjungan ke pameran kita?

8. Apa manfaat yang telah dirasakan?

9. Berapa kejadian bisnis yang signifikan dan menguntungkan dalam acara tersebut?

10. Seberapa besar atensi media terhadap pameran ini?

Sisi lain sebuah pameran
Hampir setiap hari di Jakarta ada pameran atau sejenisnya. Hal itu sesungguhnya menarik bagi warga kota untuk menjadikannya sebagai alternatif rekreasi yang edukatif. Bagaimana keluarga bisa mengenal beragam indutri dan profesi. Dari kacamata ini tentu pameran amat berguna di adakan.

Faktor keuntungan bagi perusahaan peserta harus menjadi perhatian utama EO sehingga pameran tetap selalu ramai peserta dan pengunjung karena manfaatnya yang nyata.

Selamat berpameran.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s