Bahaya Gosip


Tulisan ini diinspirasi oleh dua posting-an yaitu di: www.rayakawula.wordpress.com dan www.jurnalistikuieu.wordpress.com , jadi kalau berkenan membaca dua tulisan tersebut pasti membuat kita jadi bisa tahu bagaimana cara pandang sebagian “orang komunikasi” mengenai berita gosip yang menghangat akhir-akhir ini di televisi kita.

Luna Maya Case

Setelah blogging, membacai beberapa posting-an mengenai “infotainmen” dan kasus Luna Maya, jadi ingin menambah beberapa catatan mengenai kesembronoan “wartawan gosip” dilihat dari kaidah jurnalisme dan ilmu komunikasi. Beberapa catatan itu adalah:

1. Penyiaran berita yang tidak dilandasi fakta dan data yang cukup. Misalnya dua orang artis lawan jenis jalan berdua, maka dibangunlah sebuah dugaan bahwa mereka berpacaran, kemudian untuk mendukung dugaan itu diwawancaralah orang dekat mereka dan akan lebih seru kalau orang dekat itu adalah mantan pacar atau mantan suami atau istri mereka. Nah, cerita ini akan berkembang lagi jika si “korban” memilih diam atau menolak berkomentar. Episode gosip berikutnya akan semakin seru dengan wawancara lain yang semakin melebar dan menuduh. Apalagi disajikan oleh seorang presenter yang gayanya  “berkharisma, berhak menelanjangi orang (seolah berkata, hei bung ini adalah pers, ini adalah “media,” TV pula, jadi bebas mau apa saja. Kalian harus terima!)

2. Sudut pandang berita seringkali subyektif dan berbahaya. Tapi ya itulah gosip. (Jika asumsi dan tuduhan tanpa dasar dan data dilakukan oleh wartawan ekonomi atau politik pasti kejadiannya lebih berbahaya lagi). Apapun yang dikatakan oleh nara sumber bisa dipelintir sedemikian rupa, misalnya dipotong pada kalimat tertentu atau narasi berita yang tendensius sehingga yang disampaikan adalah ‘tuduhan’ dari presenter — yang notabene adalah hanya membaca hasil tulisan tim ‘redaksi’ dibelakang layar.

3. Cara bekerja yang tidak etis. Dengan mengejar nara sumber tanpa memberi kesempatan mencerna dan berpikir, melainkan mencecar dengan intimidasi “arogansi” media. Soal hubungan pribadi misalnya, tidak semua orang nyaman membicarakan hal semacam itu dengan orang lain apalagi publik bahkan kalau itu tidak melanggar norma apapun. Tetapi jenis wartawan ini justru suka jika narasumbernya grogi, salah bicara atau marah-marah.

Media Gosip dan Mahasiswa Komunikasi

Jadi sebenarnya sayang sekali kalau mahasiswa komunikasi bercita-cita magang di dalam produksi gosip semcam ini. Karena akan mengaburkan dasar jurnalisme mereka. Jika nantinya memang ingin bekerja di bidang jurnalistik TV atau lebih fokus di berita artis dan selebriti, jika memiliki  dasar jurnalistik yang benar, pasti akan mampu membuat berita artis dan selebriti yang berisi dan “penting” daripada sekedar gossip. Sekedar contoh  adalah seperti apa yang dilakukan majalah Rolling Stone. Mereka menulis berita artis tetapi dengan bobot yang tinggi.

Sedangkan media gosip baik cetak maupun elektronik  bisa merusak dasar ilmu jurnalistik mahasiswa. Saya mendukung universitas yang melarang mahasiswanya apalagi jurusan jurnalistik, magang dalam industri hiburan yang seperti ini.

Meskipun tidak dipungkiri sebagian artis dan mereka yang sedang ingin menjadi artis banyak yang memanfaatkan medium ini untuk melambungkan namanya. Dan lebih banyak lagi penonton yang senang menonton gosip daripada tayangan yang lebih bermanfaat. Demiian juga stasiun yang berlomba menayangkan berita gosip seperti ini karena ajaran rating yang berkuasa. Singkatnya, ada demand ada supply.

Nah, disinilah beda jurnalis yang sesungguhnya dan tukang gosip. Jurnalis misinya adalah mendidik masyarakat lewat media agar menjadi semakin ‘beradab.’ Bukan sebaliknya. Jurnalis yang cerdas akan tetap akan membantu menaikkan popularitas artis ataupun calon artis, tetapi artis dan calon artis yang pintar dan berbakat, bukan yang hanya mengandalkan gosip sebagai kendaraan kepopulerannya.

Catatan akhir: Infotainmen adalah informasi yang berguna yang dikemas dengan cara ringan dan menghibur, misalnya feature-feature ala National Geographic atau Disovery, program TV kita mengenai kuliner, wisata, pendidikan yang disajikan dengan ringan dan enak ditonton. Bukan gosip.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s