Key Performance Indicator vs Program 100 Hari


Di perusahaan-perusahaan dikenal istilah Key Performance Indicator atau KPI sebuah sistem pengukuran atau kuantifikasi kinerja dengan menetapkan sasaran atau target sebagai tolok ukur.

Misalnya sebuah departemen marketing menetapkan “Mampu menjual 100 unit barang” sebagai referen dalam KPI tahun ini. Maka akan ditetapkan pula langkah yang akan dilakukan untuk mencapai target tersebut. Langkah-langkah itu bisa menjadi KPI bagian-bagian lain yang menunjang target KPI departemen ini. Misalnya target display di wilayah tertentu menjadi target KPI bagian distribusi, sedangkan pengelolaan merek dan promosi menjadi target KPI bagian marketing komunikasi.

Jangka waktu KPI bisa dibuat dalam satuan semester atau tahunan tergantung perusahaan ybs.

Di arena politik, KPI Presiden bahkan dimampatkan dalam jangka 100 hari atau 3 bulan pertama. Sebagai performance indicator Sang Pemimpin.

Di Amerika kinerja 100 hari ini menjadi sebuah sistem yang berjalan dan menjadi acuan bagi presiden maupun pemilih untuk menilai kerja sang presiden sekaligus partai yag berkuasa. Di Indonesia, Presiden terpancing membuat program 100 hari ketika pemilihan langsung mulai dipakai di sini. Meskipun pada prakteknya program ini menjadi komoditas politik baik bagi presiden maupun lawan politiknya.

Sementara di perusahaan, KPI menjadi dasar bagi manajemen untuk mengukur kinerja setiap karyawan dan pada ujungnya mengukur kekuatan perusahaan. Bagi karyawan, KPI akan menjadi bahan Departemen Human Resource untuk melakukan penyesuaian gaji di awal tahun berikutnya.

Di pemerintahan, seharusnya KPI menjadi raport pemerintah dan partai di mata rakyat pemilih. Sayangnya mekanisme KPI ini tidak tergarap dengan baik, indikator kinerja pengusa dan partai-partai tidak pernah ada, selain celoteh-celoteh yang seolah-olah berdasar dan ilmiah padahal lebih banyak retorika untuk menutup bolong-bolong kebijakan dan manuver.

Senyampang itu rakyat tidur dalam kesulitan, makan segala macam zat additive penyedap rasa yang melemahkan nalar karena tak mampu membeli bumbu dapur dari alam, bersekolah disekolah tinggi sinetron yang meninggalkan logika yang nikmat. Akibatnya, kami lebih banyak lupa dan enggan berpikir, lebih baik menghabiskan pulsa dan waktu untuk berselancar di situs sulap agar cepat kaya dan mengintip kamar orang lain, daripada capai-capai ‘ngurusin’ KPI pemerintah.

Padahal dunia semakin cepat melaju, China sudah jauh didepan tak terlihat lagi, Korea pun begitu, Malaysia dengan sedikit mengejek baru saja melakukan overtaking meninggalkan debu yang perih di mata. Amerika, Belanda, Inggris? Wah, sepertinya sudah overlap beberapa kali.

Anda pesimis dan sinis sekali, Bung! Kalaupun benar, saya salah satu yang percaya mengenai The Power of Pessimism. Tergantung bagaimana Anda menyikapi. Tks.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s