Mengelola Penerbitan (1): Media Massa dan Penerbitan


Penulis merancang perwajahan dan tata letak Tabloid Serpong Karawaci tahun 2004.

Berita telah ada sejak manusia menemukan cara untuk berkomunikasi. Awalnya berita hanya disampaikan antar individu, tetapi dalam perkembangannya, banyak hal yang harus disampaikan kepada orang banyak secara serentak. Jadilah yang kemudian disebut komunikasi massa. Dalam bentuknya yang sederhana, pelajaran dasar Ilmu Komunikasi mengilustrasikan pesan-pesan yang disampaikan melalui asap oleh orang Indian, makna bunyi kentongan tertentu oleh orang Jawa dan tetabuhan bedug adalah sebuah bentuk komunikasi massa. Sedangkan Asap, kentongan dan bedug menjadi media massa.

Media massa terus berkembang. Ditemukannya bahasa tulis yang terorganisir dan lengkap mendorong perkembangan ini menjadi lebih cepat. Media cetak dan radio adalah revolusi media massa yang  pertama. Berikutnya,  televisi dan internet adalah bentuk medium mutakhir komunikasi massa. Medium dalam komunikasi massa ini sedang dan terus berkembang hingga saat ini.

Media Cetak

Media cetak pada saat ini hidup dan bersinergi dengan media elektronik dan internet. Varian bentuk media cetak juga semakin beragam mulai dari Koran, majalah, tabloid, bulletin dan lain-lain.

Dahulu, mengelola sebuah penerbitan media cetak adalah sesuatu yang sangat rumit dari sisi teknologi. Sekarang, dengan teknologi komputer dan kamera digital, menerbitkan sebuah media cetak adalah sesuatu yang sederhana dan mudah.

(Peringatan keras: ketika membaca bagian pertama ini, jangan membayangkan dunia Flinstone. Semuanya bisa terbolak-balik)

Membangun Pipa Informasi

Siapa yang menguasai informasi, dia akan menguasai dunia. Maka jadilah Mario Bross, bangunlah pipa ledeng informasi.

Ini abad nuklir, kata guru SD saya pada tahun 80-an. Sekarang? Sekarang abad Informasi kata Rupert Murdoch juragan koran dan televisi Australia yang meraksasa di Amerika itu. Benarkah informasi menjadi barang yang begitu penting? Jawabnya, ya. Ketika informasi di cari, dikumpulkan dan akhirnya dikemas dalam bentuknya yang amat sangat beragam, berubahlah ia  menjadi  komoditas bagi sebuah usaha, panduan untuk kebijakan politik, ruang kelas terluas di sebuah sekolah antar bangsa, jalan kebenaran Ilahiah, bahkan peta penyerangan bagi sebatalyon tentara untuk menaklukkan daerah musuh.

Kalau komunikasi selalu melibatkan sender, media, receiver maka pipa ledeng informasi itu adalah media itu. Siapa yang menyangkal bahwa menjadi Mario Bross Informasi itu sebuah pekerjaan yang menjanjikan? Menjadi pemilik media pada jaman sekarang ini tak ubahnya seorang raja atau presiden. Benarkah? Ya, dari segi kekayaan, para pemilik media masuk dalam daftar orang-orang dengan penghasilan tertinggi. Mereka biasanya adalah konglomerat dalam bisnis-bisnis yang beragam. Tapi apakah benar dia memiliki kekuasaan seperti halnya raja atau presiden? Pilar demokrasi yang keempat, selain rakyat, pemerintah dan hukum adalah media massa. Jadi benarlah, memiliki media massa juga memilki kekuasaan politik seperti halnya lembaga pemerintahan.

Mengapa kita harus ikut mengelola informasi?

Anda dan saya hidup dalam sebuah medan informasi bahkan juga ikut memproduksi dan mereproduksi informasi itu. Apalagi kalau kita adalah simpul penting dari sebuah sistem atau organisasi.

(Catatan: Informasi yang kita serap, yang kita produksi maupun yang kita reproduksi seharusnya melewati sebuah proses yang sadar, terukur dan terkendali.)

Anda seorang ibu rumah tangga, setiap hari televisi menyajikan miliaran informasi bahkan menyelusup sampai ke dapur Anda. Belum lagi koran, majalah, radio, SMS yang datang bahkan tanpa kita tahu siapa yang mengirimnya untuk Anda, ibu-ibu bigos pembawa kabar, anak-anak yang mengetuk pintu pulang sekolah itu tiba-tiba riuh menjadi pembawa kabar dari luar sana, wah! Bagaimana Anda mengelola semua terpaan informasi tersebut?

Bagaimana kalau Anda ambil yang bermanfaat-yang bermanfaat saja, kemudian Anda reproduksi bagi penerima informasi berikutnya (entah suami, anak, atau ibu-ibu di arisan RT) sehingga informasi bukan menjadi sampah yang membusukkan, tetapi bermanfaat bagi Anda dan si penerima informasi dari Anda? Itulah hakekat mengelola informasi, menata pesan, memilih saluran penyampaian agar si penerima dapat berbuat seperti yang seharusnya dilakukan atau jika mau, mereka jadi berbuat seperti yang Anda kehendaki!

Di dalam sebuah perusahaan atau organisasi, setiap hari beredar ratusan bahkan ribuan informasi. Jenisnya pun beragam, ada yang bersifat instruktif dengan cirinya mengalir  searah, biasanya dari atasan kepada bawahan alias top down. Ada yang merupakan informasi dalam kerangka komunikasi timbal balik yang demokratis sampai informasi liar yang tidak jelas ujung-pangkalnya yang biasa kita kenal sebagai kasak-kusuk atau grapevine. Nah, dalam sebuah hujan badai informasi tersebut  jika tidak terdapat sebuah saluran yang tepat, tentu saja potensi munculnya ‘kekacauan’ (anxiety) akan sangat besar. Sebaliknya jika kita mampu mengalirkannya dengan benar, bukan tidak mungkin informasi justru akan menjadi aset yang menguntungkan bagi organisasi.

Media Cetak Tak Pernah Usang

Sadarkah Anda bahwa ketika kita terbiasa dengan bahasa tulis kita memiliki ketajaman berpikir yang lebih? Ketika bahasa tulis mulai dipelajari di Yunani, berakhirlah era lisan dan masuklah jaman Plato yang lebih tajam dan bertanggungjawab dalam berfilsafat. Bahasa tulis ternyata mendorong orang untuk berpikir terbuka karena buah pikirnya dapat ditelaah orang lain dengan lebih luas dan lama. Akibatnya orang akan berpendapat dengan lebih hati-hati. Bahkan kita bisa mengoreksi pendapat kita sendiri agar menjadi akurat dan sempurna. Tentu saja sebelum dipublikasikan!

Bagaimana nasib media cetak nanti?

Pernah diramalkan bahwa media cetak akan hilang pada tahun 2000. Semua akan beralih kepada teknologi komputer, digital dan internet. Memang tidak berlebihan membayangkan hal itu, melihat betapa hanya memerlukan waktu tak lebih dari 30 tahun, perkembangan teknologi komputer  sejak IBM mengembangkan komputer generasi pertama pada tahun 1970-an, kini sudah menjadi sangat maju dari sisi kekompakan ukuran dan kemampuan.

Tetapi sifat-sifat dasar manusia yang konservatif, seperti keinginan untuk bersosialisasi, belajar dengan tahapan yang manusiawi, bersantai, keterbatasan biologis, dan seterusnya membuat media cetak yang memenuhi keinginan masnusiawi dan tuntutan  keterbatasan biologis manusia itu sampai kini tetap hidup. Bahkan, yang menakjubkan, teknologi mutakhir komputer hadir bukan memakan industri media cetak tetapi justru sebaliknya: membuat media cetak semakin maju dan sempurna!

Yang pertama mengenyam keuntungan dari kecanggihan komputer  dari alur proses pembuatan media cetak adalah teknologi lay out. Tak perlu jauh-jauh bicara dari masa Johann Guttenberg yang telah memecah kesunyian teknologi cetak setelah 400 tahun diam dalam kelambanan dan keterbatasan. Lewati saja halaman yang menceritakan tentang mesin Linotype yang mampu memproduksi plat cetak 6 baris per menit menjelang tahun enam puluhan. Sepuluh tahun terakhir ini saja komputer telah mempertontonkan sebuah revolusi lay out dan desain yang menakjubkan.

Lihat saja bagaimana wajah media cetak sekarang ini, luar biasa indah dan dengan kerapian yang menakjubkan. Semua itu berawal dari kecanggihan komputer, perangkat lunak desain yang terus memperbaiki dirinya dan artisnya yang berdaya imajinasi tinggi.

Sebut saja perusahaan komputer grafis Macintosh yang masih mengembangkan tipe Mac Classic di era 80-an dengan layar hitam-putih 9 inchi, kini telah memasarkan generasi G-5 (baca: Ji Faif) dengan kecepatan mencapai 3 giga byte per detik. Artinya setiap detik, komputer ini bisa memproses informasi sebesar 3 miliar satuan informasi. Sementara itu PC juga telah mampu mengusung prosesor dengan kecepatan yang sama. Apalagi berita terakhir adalah Apple pun Intel Inside!

Perangkat lunak desain dan lay out yang ada dipasar, juga berkembang pesat. Pilihan begitu beragam, tergantung apa kebutuhan kita. Sebut saja software klasik seperti Quark Xpress yang telah mencapai 6 versi atau Page Maker yang telah mencapai 7 versi. Belum lagi hadirnya Adobe InDesign yang kian maju dalam memperlakukan gambar vektor.  Perangkat lunak – perangkat lunak ini masih ditunjang perangkat lunak grafis lain yang  sangat canggih dan amat beragam.

(Berita terakhir lagi: perangkat lunak desain dan desktop publishing kini mengerucut lagi dibawah akuisisi Adobe … lupakan Aldus dan Macromedia … maka lahirlah Creative Suite 4 yang luar biasa dahsyat!)

Keberadaan teknologi seperti ini telah memangkas begitu banyak tenaga manusia dalam urusan menyiapkan bahan-bahan sebelum di cetak seperti ketika jaman cetak tinggi Guttenberg maupun cetak panas (hot-metal) era mesin linotype Ottmar Margenthaller.

Sinergi Digital

Sebagaimana saat IBM membuat komputer pertama sebesar rumah, teknologi mutakhir yang awalnya diragukan juga oleh banyak orang adalah kamera digital. Bergandengan tangan dengan kecanggihan computer, kamera digital telah memungkinkan proses pembuatan media cetak menjadi begitu mudah dan irit sumber daya manusia.

Nah, kecanggihan teknologi dan dunia komunikasi modern ini yang akan menjadi landasan kita ngeblog lagi di kiriman mendatan: bagaimana mengelola penerbitan! ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s