Pesona Pidato Presiden SBY


Presiden SBY (dari Kompas.com)
Jujur, jarang sekali saya mengikuti pidato Presiden SBY. Secara (hebat sekali orang yang menemukan cara baru menggunakan kata ini) saya juga bukan termasuk yang memilih beliau dalam pilpres 8 Juli 2009 lalu. Kalau mau memeras otak, kapan saya mendengarkan pidato Presiden SBY, muncul memori saat pidato di TIM saat kampanye tahun 2004, masih belum bisa mengalahkan pesona orasi Pak Amien Rais. Kemudian, pidato di depan para Gubernur yang diselingi dengan teguran bagi yang tidur, jangan-jangan memang kurang menarik pidato ini. Kemudian saat mbah Surip meninggal ia menyampaikan bela sungkawa di depan wartawan di halman istana. Kesannya agak hambar dan tidak terlalu penting, lepas dari pesona mbah Surip yang memang fenomenal. Itu saja, tak banyak memang.

Tetapi pidato Presiden SBY malam ini beda, saya mengikuti dari awal hingga akhir. Saya cukup terpesona dengan pidatonya, bisa jadi banyak juga yang merasakan yang sama. (Sengaja saya tidak wisata blog dulu mengenai hal ini … sebelum tulisan ini selesai.) Pidato Presiden SBY kali ini sepertinya adalah yang memiliki momentum yang paling pas.

Seluruh Energi partai politik selama dua bulan ini seolah-olah menyatu mengarah pada seorang SBY. Aliran energi itu begitu besar dan sangat fokus. Dalam titik yang paling kritis, SBY menghimpun semua energi tersebut bahkan memanfaatkannya sebagai kekuatan balik.

Presiden SBY mengawali pidato, menjelaskan dan mengakhirinya dengan nyaris sempurna. Tanpa teks ditangan, menunjukkan kualitas logikanya yang masih prima. Pemilihan katanya bernas dan potensial melahirkan frasa-frasa baru yang bakal populer. Sebut saja yang saya ingat: jadikan terang benderang, suarakan kebenaran dengan nyaring, demi kepentingan bagian terbesar rakyat dll.

Urutan penyampaian masalah juga rapi: dari memotret kerja DPR yang katanya menyadarkan untuk membangun demokrasi dengan lebih beretika lagi, ihwal bail out Bank Century yang memiliki landasan kuat, kredibilitas Bu Sri Mulyani dan Pak Budiono, hingga dirinya yang tidak akan memprioritaskan permasalahan koalisi diatas agenda pemerintah yang pro-rakyat.

Presiden dengan cekatan menyebut angka-angka indikator ekonomi, kepanjangan-kepanjangan dari singkatan yang cukup rumit seperti PPATK dan tanggal kejadian membuat isi pidatonya terasa bernas dan kredibel.

Intonasinya yang konsisten dari awal hingga akhir menyiratkan kedewasaan dan keseriusan sikap dan pemikirannya. Karakter seperti ini kita temukan juga pada pada diri politikus muda Anas Urbaningrum atau rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan. Bandingkan misalnya dengan gaya Ruhut Sitompul, Sutan Bhatoegana, atau Roy Suryo si Mr. Huu. Gaya bertutur memang selalu berkaitan dengan amalan (baca: sikap perilaku) sehari-hari.

Presiden hanya terlihat tiga kali salah eja tetapi itu hal yang wajar. Jeda terpanjang yang ia lakukan adalah tatkala berpikir (sepertinya) mengurangkan tahun 2010 dengan 1998 hingga akhirnya ia mengucapkan: lebih dari sepuluh tahun. Tapi rasanya itu hasil pengurangan cukup bagus dalam sebuah pidato, daripada membulatkan menjadi 12 tahun misalnya, sehingga tidak akurat dan audience disuruh memaklumi. Pemakluman kesalahan adalah nilai buruk dalam pidato.

Seluruh poin pemikiran Presiden SBY sepertinya sudah terungkap dalam pidatonya kali ini. Komprehensif dan semuanya menggunakan kalimat yang bernuansa positif. Saya agak cemas manakala bahasan mulai mengarah pada DPR dan partai, karena jika tidak waspada bisa memancing emosi sehingga pidato terjebak dalam kubangan penistaan, yang bisanya susah untuk ditarik kembali.

Nada kemarahan yang muncul saat menyebut nama Robert Tantular dan ‘dipenjarakan’ memiliki efek psikologis yang kuat untuk penegasan soal keseriusan dan keberanian.

Sekali lagi momentum pidato ini tepat dan dilakukan dengan cara yang sangat berkelas.

Meskipun dunia ini tidak akan berubah karena pidato-pidato yang bagus, kata orang, tetapi pidato yang baik sangat membantu menemukan solusi bagi dunia, menurut saya.

Apalagi jika berbicara kebenaran yang diyakini Presiden memiliki hakikatnya sendiri, lepas dari tafsir apapun.
(Kebenaran, kami rakyat kecil tak mampu melihatmu!) ***

2 thoughts on “Pesona Pidato Presiden SBY

  1. Perhatikan 2 layar putih atau layar transparan di depan sby, disitulah running text naskah pidato dipantulkan dari suatu tempat yg tersembunyi.

    • Bisa jadi benar. Pidato tetaplah pidato. Sebagus apapun kalau pelaksanaannya nol, tetap saja tinggal kata-kata. Seperti kata Rendra: Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s