Mengelola Penerbitan (3): Perlunya Sebuah Tim Kerja


Mengapa tidak Anda kerjakan seorang diri saja?

Mengapa anda harus mengumpulkan sebuah Tim? (Sekalipun Anda memiliki kemampuan reportase karena pernah menjadi wartawan majalah kampus, menulis karena tulisan Anda pernah dimuat di surat kabar, bahkan mendisain sebuah media cetak karena pada waktu senggang Anda kursus desain grafis?) Media cetak adalah sebuah bangunan yang penuh dengan detil. Betul, seperti sebuah mozaik handycraft! Jadi, Anda seorang diri tentu tidak mungkin membuatnya, apalagi ada makhluk mengerikan dalam sebuah penerbitan, dia adalah hantu Tenggat! Ya, tenggat atau dead-line menjadi batas Anda memahat kata-kata menjadi ukiran informasi yang indah.

Ingat, bahkan Bandung Bondowoso dan Sangkuriang gagal menepati tenggat yang ditentukan oleh Lara Jonggrang dan Dayang Sumbi masalahnya adalah satu: dia bekerja sendiri! (Tentu saja ini adalah amsal humor, yang sungguhan akan Anda dapati di paragraf-paragraf berikut)


Bagaimana Anatomi Tim kita?

Tim Brasil dalam piala dunia sudah jadi legenda bersambung, mereka adalah personifikasi yang sempurna dari sebuah kerjasama yang terorganisir yang indah ditonton. (Kecuali piala dunia 2010 … kata beberapa pengamat) Tim Belanda terkenal karena total footbal-nya yang selalu merangsek maju. Lalu tim seperti apakah yang akan kita buat untuk membuat tim penerbitan kita bekerja?

Ada dua bagian penting dalam sebuah tim penerbitan, yakni bagian redaksi dan bagian usaha. Dua elemen ini harus bersinergi agar perahu media kita bisa tetap berlayar. Tim redaksi berkewajiban mengurus segala sesuatu mengenai isi media sehingga renyah tidaknya tulisan, dalam atau dangkalnya informasi, mak nyus atau tidaknya judul berita, cantik tidaknya wajah media, semuanya ada di tangan mereka. Sementara itu tim usaha akan mengurus bagaimana media kita tercetak, tersebar, mendapat pengiklan dan dana sehingga ‘nyawa’ tetap betah dalam penerbitan kita.
Tim memang harus berirama tertentu. Terbitan remaja yang sangat anak muda hanya akn bisa diisi oleh orang-orang berjiwa muda, paham dunia muda dan seterusnya. Lain lagi sebuah penerbitan berita, perempuan, anak-anak atau penerbitan untuk kalangan bisnis. Bagaimana dengan penerbitan pertanian, media internal, media lokal, penerbitan buku dan penerbitan apapun menurut ide Anda.

Badai Otak!

Brain Storming (curah pendapat) telah menjelma istilah paling populer dalam dunia penciptaan kreatif. Maknanya adalah membongkar seluruh kemampuan dan perbendaharaan pengetahuan, sensasi, kepekaan, metafora, imajinasi dan sebagainya dari beberapa orang untuk menghasilkan sebuah konsep produk yang matang.

Ilmu tentang curah pendapat paling menantang, meskipun tidak menggunakan kasus penciptaan konsep penerbitan adalah yang dibentangkan oleh Tom Kelley dalam bukunya The Art of Innovation. Intinya kreativitas bisa diciptakan dalam sebuah ruang curah pendapat. Lupakan soal intuisi apalagi wangsit. (Bacaan lebih lanjut: The Art of Innovation, Tom Kelley)

Dianjurkan, curah pendapat diikuti oleh orang dengan beragam kemampuan spesial namun memiliki satu muara pemikiran. Dianjurkan pula tim ini dipimpin oleh seorang yang mengerti bagaimana membuat kondisi curah pendapat menjadi egaliter, jangan dipimpin oleh orang yang tak mampu mendengarkan. Ia harus bisa memutuskan, tetapi bukan diktaktor. Lebih dari itu, ia harus menguasai permasalahan.

Menentukan format (Lebih Dalam: Mengelola Penerbitan IV: Format Penerbitan, akal sehat vs riset)

Salah satu topik curah pendapat yang pertama adalah menentukan format penerbitan yang tepat. Format sangat dipengaruhi oleh tiga hal ini: Menentukan segmentasi pembaca, menetapkan pasar sasaran dan mendekatinya dengan kekuatan unik dari penerbitan kita dalam keramaian media yang ada, dan menentukan posisi atau atribut seperti apa yang kita harapkan atas penerbitan kita di mata pasar. (Bacaan lebih lanjut: Dasar-dasar Pemasaran, Philip Kotler & Gery Armstrong)

Mengapa penentuan format begitu beraroma “jualan?” Oke, mungkin Anda tidak sedang memikirkan sebuah penerbitan komersial, tetapi pendekatan gaya pemasran tersebut tetap akan bermanfaat bagi kita karena yang dibahas adalah mencari kesesuaian antara produk dengan pengguna. Jadi tetap klop, kan?

Intinya adalah mengetahui ekspektasi atau harapan calon pembaca kita, sehingga media seperti apa yang kita akan kita terbitkan dapat dirancang sedemikian rupa sehingga pada saat diluncurkan, bisa diterima. Tak ada keberhasilan yang lebih dari saat kita mendapatkan respon positif atas apa yang kita terbitkan. Eh, ingat ya, kritik itu juga respon positif, lho.

Membuat Tim Redaksi, Yak ini Dia!

Susunan tim, baiklah kita tengok sebuah penerbitan ternama. Biasanya seperti ini:
1. Pemimpin Umum – Ia adalah pemimpin dari seluruh proses penerbitan baik sisi editorial maupun usaha. Ia seharusnya memahami managerial sebuah usaha dan mengerti dunia penerbitan lebih baik. Biasanya ia juga bertitel Penanggung Jawab.
2. Pemimpin Redaksi – Teman ini bertugas memimpin seluruh awak redaksi: reporter, redaktur, fotografer, ahli bahasa dan perangkat lain yang diperlukan sehingga bisa bekerja dengan terarah, terkendali dan tepat waktu.
3. Redaktur Pelaksana – Memimpin sebuah tim reporter untuk menggali berita atau tulisan dalam fokus tertentu.
4. Reporter atau wartawan – Ujung tombak penerbitan yang bertugas mencari, mengidentifikasi dan menulis sebuah berita untuk dibaca oleh pemimpin redaksi sebelum diterbitkan.
5. Fotografer – Seperti reporter, tetapi menggunakan kamera untuk meliput peristiwa.
6. Sekretaris redaksi – Mengurus segala keperluan administratif redaksi.
7. Desainer Grafis – Tentu saja departemen ini bertugas merangkum semua materi penerbitan menjadi sebuah tampilan yang menarik dan siap di cetak oleh tim produksi.
8. Pemimpin Tata Usaha – Memimpin skuadron usaha yang terdiri dari
9. Bagian Iklan – Menawarkan dan mengeksekusi iklan dan potensi pendapatan lain non distribusi.
10. Bagian Produksi – Mengurus pencetakan terbitan kita.
11. Bagian Distribusi – Mengurus jaringan pemasaran dan outlet produk serta mengatur keuangan dari sektor ini.

Wuah! Timnya banyak sekali, bagaimana kita bisa membuatnya untuk sebuah langkah pertama. Kan kita sepakat untuk membuat penerbitan kecil? Jangan khawatir susunan itu hanya untuk menggambarkan fungsi-fungsi yang ada di dalam sebuah usaha penerbitan. Penyederhanaan tim tentu saja sangat boleh dilakukan sesuai dengan kebutuhan kita.

Ssst. Bahkan kalau di penerbitan internal, kadangkala ada nama titipan yang harus dimasukkan misalnya sebagai Penasehat.

Anatomi susunan pengelola ini dahulu memang identik dengan penerbitan koran atau majalah. Tetapi penerbit buku saat ini ada juga yang mengadopsi pengelolaan seperti ini. Tujuannya adalah membuat penulisan buku menjadi cepat. Tetapi pemimpin redaksi menjadi penanggungjawab yang berkuasa penuh. Karena biasanya buku memiliki otoritas lebih dibanding media cetak biasa.

Pilihan-pilihan yang sulit

Ukurlah apakah Tim Anda akan mampu mengatasi semua urusan ini sendiri? Adakalanya sebuah ide penerbitan akhirnya dikerjakan secara out sourcing? Apalagi itu out sourcing? Ya, istilah itu untuk menunjuk pihak lain yang bisa membantu mengerjakan pekerjaan kita. Tentu saja dengan harga tertentu. Menggunakan pihak ketiga seperti ini tentu sangat membantu, tentu saja dengan pertimbangan yang cermat. Nanti kita bahas lagi, siapa yang bisa menggunakan pihak ketiga. Siapa yang bisa menjadi pihak ketiga? Bagaimana system kerjasamanya? Ok, sampai nanti ya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s