Malaysia Lagi


upin & ipin
Sebuah ikon Malaysia yang lain.
Sejarah bangsa bertetangga mengapa selalu menampilkan kisah yang serupa: ketegangan? Hubungan antar budayanya juga saling mirip satu sama lain. Memang ada yang sebatas ketegangan kultural semacam Belanda – Belgia atau Kanada  – Amerika.  Orang Belanda dalam tanda petik kesel kalau ada orang Belgia yang mengaku-ngaku Belanda. Orang Kanada tidak mau dianggap Amerika mereka mencitrakan dirinya sebagai pecinta damai bukan sebaliknya.

Sampai kepada ketegangan militer yang mengenaskan, semisal India – Pakistan yang sejak jaman Gandhi – Nehru, Zia Ulhaq. Atau yang selalu bertensi hangat hingga panas semacam Korea Utara- Selatan, Jepang – Cina, Laos – Thailand, Cina – Taiwan dan kita pasti tahu: Indonesia – Malaysia.
Baca lebih lanjut

Mengelola Penerbitan (4): Format Penerbitan: Riset vs Akal Sehat


Sebelum jauh, saya sekali lagi tergoda untuk menyinggung pertanyaan “apa masih relevan bicara penerbitan di era digital dan touch screen seperti sekarang ini?

Sampai saat ini orang masih membaca terbitan seperti koran, buku konvensional, tabloid, majalah tertentu disamping ngeblog, googling, ng-e-book dst. Juga lihatlah lapak koran sekarang marak lagi dengan tabloid baru yang semakin segmented.

Para praktisi PR juga masih mengandalkan media tercetak sebagai alat komunikasi mereka. Sinergi media cetak dan internet dan dunia digital menghasilkan awareness yang tinggi terhadap media, meskipun memang ada pengaruh terhadap penurunan tiras. Jika kita bisa membuat isi sebuah media dengan PAS maka media cetak tetap punya pasarnya. Lihat saja Majalah Rolling Stone, National Geographic, Tempo, Kompas, Pos Kota, Koran-koran daerah yang tetap berkibar, media dakwah, media pertanian, tabloid kuliner, tabloid artis, media otomotif, olah raga, rumah dan komputer. Semuanya mengejar segmen tertentu dengan bahasan spesifik yang menarik, sehingga media cetak mereka tetap disukai.

Baca lebih lanjut