Mengelola Penerbitan (4): Format Penerbitan: Riset vs Akal Sehat


Sebelum jauh, saya sekali lagi tergoda untuk menyinggung pertanyaan “apa masih relevan bicara penerbitan di era digital dan touch screen seperti sekarang ini?

Sampai saat ini orang masih membaca terbitan seperti koran, buku konvensional, tabloid, majalah tertentu disamping ngeblog, googling, ng-e-book dst. Juga lihatlah lapak koran sekarang marak lagi dengan tabloid baru yang semakin segmented.

Para praktisi PR juga masih mengandalkan media tercetak sebagai alat komunikasi mereka. Sinergi media cetak dan internet dan dunia digital menghasilkan awareness yang tinggi terhadap media, meskipun memang ada pengaruh terhadap penurunan tiras. Jika kita bisa membuat isi sebuah media dengan PAS maka media cetak tetap punya pasarnya. Lihat saja Majalah Rolling Stone, National Geographic, Tempo, Kompas, Pos Kota, Koran-koran daerah yang tetap berkibar, media dakwah, media pertanian, tabloid kuliner, tabloid artis, media otomotif, olah raga, rumah dan komputer. Semuanya mengejar segmen tertentu dengan bahasan spesifik yang menarik, sehingga media cetak mereka tetap disukai.

Format, apakah berpengaruh?

Masih ingat ukuran koran Kompas dahulu, atau Koran Tempo waktu pertama terbit? Semuanya cenderung memilih format yang mengecil. Menurut survei, itu mengikuti ideologi kepraktisan para pembaca saat ini. Jadi pertimbangan format media dianggap penting untuk menjadikan media kita disukai pembaca.

Pilihan format memang sangat beragam. Pilih saja, mau dengan cara riset yang canggih dan mahal atau dengan akal sehat saja. Tabloid, menurut saya, yang berukuran sekitar 29 cm x 40 cm saat tertutup, adalah ukuran yang menarik untuk beragam segmen dan konten.

Tabloid memungkinkan untuk ‘bermain’ dengan tata letak yang atraktif dengan sisa yang masih dibilang cukup ruang untuk sebuah tulisan yang cukup lengkap. Ukurannya yang tidak terlalu besar, juga enak untuk di tenteng.

Tapi boleh juga dipertimbangkan format A4 seperti majalah atau media Bisnis Review yang hanya dicetak dua warna tetapi tetap dicari sampai saat ini.

Ukuran ‘buku’ juga menarik jika dianggap isi media akan berpanjang-panjang dan diharapkan bisa dikoleksi. Tetapi ada contoh yang menurut hemat penulis kurang pas adalah perubahan format sebuah majalah komputer menjadi ukuran buku B5 namun lay-out-nya masih mempertahankan gaya majalah. Jadinya, tulisannya jadi sangat kecil!

Jadi format apa yang Anda pilih?***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s