Malaysia Lagi


upin & ipin
Sebuah ikon Malaysia yang lain.
Sejarah bangsa bertetangga mengapa selalu menampilkan kisah yang serupa: ketegangan? Hubungan antar budayanya juga saling mirip satu sama lain. Memang ada yang sebatas ketegangan kultural semacam Belanda – Belgia atau Kanada  – Amerika.  Orang Belanda dalam tanda petik kesel kalau ada orang Belgia yang mengaku-ngaku Belanda. Orang Kanada tidak mau dianggap Amerika mereka mencitrakan dirinya sebagai pecinta damai bukan sebaliknya.

Sampai kepada ketegangan militer yang mengenaskan, semisal India – Pakistan yang sejak jaman Gandhi – Nehru, Zia Ulhaq. Atau yang selalu bertensi hangat hingga panas semacam Korea Utara- Selatan, Jepang – Cina, Laos – Thailand, Cina – Taiwan dan kita pasti tahu: Indonesia – Malaysia.

Sejarah hubungan Indonesia – Malaysia memang khas sejak jaman kemerdekaan. Bangsa serumpun ini sering diberitakan cek-cok. Diplomasi tingkat tinggi memang tidak mengindikasikan ketegangan sejak operasi Ganyang Malaysia jaman Bung Karno. Setelah periode itu yang terjadi adalah periode awal pemerintahan Soeharto yang terlihat konfiden namun kemudian semakin menurun di bagian akhir, sehingga kekuatan ASEAN bergeser ke atas sehingga sentimen ‘melecehkan’ mulai tumbuh pada masyarakat tertentu di Malaysia dan Singapura atas Indonesia.

Ketidakstabilan politik dan ekonomi, fenomena buruh migran  dan gangguan keamanan yang carut-marut antara oknum dari Malaysia dan Indonesia jadi kerikil yang mematangkan berbagai seterotip menjadi sebuah stigma sosial yang mengendap dan siap muncul sewaktu-waktu dalam berbagai bentuknya.

Lihat saja di berbagai forum dunia maya saling hina peselancar dari dua bangsa kerap sekali memanas. Juga demonstrasi dan gerakan-gerakan lain yang terbaca sebagai puncak gunung es sentimen sosial tersebut.

Peristiwa kultural yang sangat fenomenal dan terlihat sangat besar dalam skala kesadarannya adalah pemakaian ikon budaya ‘milik’ bangsa Indonesia dalam khazanah promosi wisata Malaysia. Batik, reog dan lagu kita diklaim sebagai ‘kepunyaan’ Malaysia.

Kekuatan aparat dan angkatan bersenjata Malaysia juga turut andil dalam menaikkan eskalasi hubungan sosial dua negara dari ketegangan kultural menjadi ketegangan politik bahkan menuju ketegangan militer. Masalah perbatasan adalah pemicunya. Bahkan Malaysia terlihat serius membuat batu sandungan dalam masalah seperti ini terlihat dari upaya pendekatan sosial-ekonomi level akar rumput di wilayah perbatasan, ditunjang intensifikasi dan ekstensifikasi patroli militer sampai kesiapan dalam peradilan Internasional.

Masalah-masalah ‘besar’ ini belum juga ketemu solusinya, eh .. muncul Manohara dan perseteruannya dengan suaminya yang pangeran dari Kelantan. Yah!

Komunikasi Antarbudaya

Tak bisa dipungkiri, hubungan komunikasi dua bangsa ini sebenarnya juga melibatkan peristiwa-peristiwa manis yang memiliki potensi meredam ketegangan. Biasanya dipicu oleh para artis. Contohnya Sheila Madjid, Siti Nurhaliza, Amy dan lain-lain yang dicintai publik Indonesia. Sementara pemusik kita juga disambut sangat antusias di negeri Malaysia.

Dahulu RRI dan TVRI punya agenda khusus melakukan siaran bersama yang memungkinkan adanya pencairan ketegangan kultural antar kedua bangsa.

si unyil
Jadi ingat kejayaan teman kita yang ini.
Ditengah suasana yang kini agak memanas lagi karena kasus operasi nelayan Malaysia di perairan Indonesia yang berbuntut pada demonstrasi kekuatan militer yang (menurut berita) ditengarai sebagai pelanggaran wilayah dengan sengaja dan ofensif oleh Polisi Perairan Malaysia, setiap hari kita menonton Upin dan Ipin sebagai duta budaya dari Malaysia.

Lepas dari pamer kekuatan ala polisi Malaysia, Upin dan Ipin adalah fenomena mutakhir yang sehat. Ceritanya yang kuat dan percaya diri, menjadi sumber inspirasi yang harus diakui sangat positif. Kadangkala kita yang tidak open minded akan mencari sisi kurang dari produk semacam ini. Entah seni kartunnya, musiknya, ininya, itunya atau apa. Tujuannya adalah menjatuhkan. Padahal isi cerita Upin dan Ipin menurut hemat penulis sangat konstruktif dan konsisten, tingkat emosi yang terkontrol dan dewasa serta cerdas mencirikan kreator tontonan berkelas.

Pesan Upin dan Ipin itu sangat berbeda dengan transaksi pesan kekerasan di perbatasan dan perairan, strategi promosi wisata yang ambisius, dan perlakuan tenaga kerja migran yang tak sepatutnya. Kreator Upin dan Ipin bahkan sangat berani melawan wacana yang membesar (menyerang Indonesia) di Malaysia sendiri, dengan memunculkan tokoh Susanti yang tidak dibuat sebagai wakil stereotip mereka atas orang Indonesia. Sebaliknya, Susanti adalah gadis cantik yang jadi idola di kelas Upin dan Ipin! Sungguh sebuah keberanian dan kedewasaan berbudaya yang patut dihargai, ditengah sentimen yang mendarah daging dan norak ini.

Malaysia dan Indoesia adalah aset dunia, aset manusia dan aset planet bumi yang sekecil debu di galaksi ini. Kesombongan demi kesombongan telah membuat tetanggaan ini iri dan dengki.  Semuanya berpangkal dari keinginan untuk sejahtera dan dihormati. Tidak ada yang salah dengan cita-cita tersebut, hanya caranya sering dilandasi superioritas bukan kesadaran bertetangga yang salig menghargai.***

2 thoughts on “Malaysia Lagi

  1. Karena pada dasarnya juga antara Malaysia dan Indonesia adalah bangsa serumpun, penjajahan kolonial lah yang membuat terpisah , banyak contoh, coba lihat Timor dan papua, karena di jajah oleh dua kolonial yang berbeda menjadi terpisah padahal Dahulu kala mereka adalah satu bangsa dan satu ras

    ————————————————-

    Kepentingan ekonomi politik memang selalu melahirkan potensi ketegangan. Belum lagi campur tangan kekuatan global yang senang memancing di air keruh. Seharusnya kekuatan regional bisa mengendalikan hubungan-hubungan menjadi konstruktif. Ingat bagaimana dahulu PM Australia Paul Keating bisa membuat kebijakan yang merangsang hubungan baik negara Kanguru itu dengan tetangganya di sebelah utaranya, termasuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s