Impian Rusia vs Impian Indonesia.


Judul di atas mungkin memang tidak terlalu tepat menggambarkan apa yang ingin ditulis berikut ini. Tetapi apa yang ditulis oleh majalah Bloomberg Businessweek edisi 5 – 11 Agustus 2010 mengenai Impian Rusia mengenai bagaimana mereka memandang sebuah “rumah” adalah sesuatu yang menyadarkan kita tentang sebuah nilai yang seringkali kita lupakan dan kita anggap sepele tetapi sesungguhnya memiliki nilai yang “tinggi” dan untuk mencapainya harus diperjuangkan dengan serius bahkan melalui lika-liku politik yang rumit.

Impian yang mereka maksud tidak lain adalah ingin membuat warga Rusia memiliki rumah mereka sendiri. Lho, apakah mereka selama ini tidak memilikinya? Benarkah Negara semaju mereka apalagi jika mengingat kedigdayaan Uni Sovyet dahulu, tinggal orang-orang yang tidak memiliki kediaman yang kita sebut rumah itu?


Begitulah rupanya. Penduduk Rusia yang berjumlah 142 juta ternyata 77% diantaranya tinggal di dalam blok-blok apartemen. Dan berumah seperti itu menurut presiden Rusia Dmitry Medvedev adalah sebuah keterkungkungan. Menurutnya orang yang memiliki rumah tinggal sendiri, jalan masuk, dan karirnya sendiri pada dasarnya akan menjadi orang yang berbeda. Proyek ambisius pemerintah Rusia ini bukannya tanpa kendala. Pendanaan adalah kendala utama disamping system KPR disana yang tidak terlalu maju dan populer. Harapan berikutnya, masih menurut pemerintah, orang Rusia akan memacau memiliki lebih banyak anak!

Bagi orang Indonesia, keberadaan rumah sudah menjadi kebutuhan dasar yang memang terbukti memacu untuk memiliki banyak anak. Tak ada yang luar biasa. Yang justru menjadi impian sementara orang Indonesia adalah memiliki apartemen dengan alasan berbeda-beda, seperti menghindari kemacetan, investasi karena bisa disewakan, sebagai sarana tetirah, karena rumah biasa lebih mahal atau yang sekedar gaya hidup.
Tetapi disisi lain orang-orang yang dahulu memiliki rumah, karena hilangnya kekuaatan ekonominya, saat ini sedang bergerak menuju petak-petak rumah kontrakan yang kondisinya tentu jauh dari kenyamanan apartemen. Bahkan mereka menyewa rumah petak di lahan bekas miliknya sendiri.

Apapun bentuk impiannya, pengalaman Rusia maupun Indonesia sesungguhnya memiliki pesan nilai yang sama, yakni kebijakan pembangunan harus menempatkan manusia sebagai alasan utama. Bukan pertumbuhan ekonomi saja, tetapi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s