Pendidikan


Sok tahu saja, saya sering bicara ke orang – dari kenalan saya sopir taksi, teman saya tukang reparasi, tukang sol sepatu, hingga penjaja roti keliling – mengatakan bahwa 50% masalah di Indonesia ini dapat diselesaikan jika pendidikan dilaksanakan dengan benar.

Bisa sederhana bisa juga tidak. Tapi apa yang ditunjukkan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, Butet Manurung dengan mengajar anak rimba, Johannes Surya dengan proyek olimpiade fisikanya, Anis Baswedan dengan Indonesia Mengajar menunjukkan sudut-sudut dunia pendidikan kita yang patut dibanggakan sekaligus patut dibenahi.

Apa yang harus dilakukan dunia pendidikan adalah membuat anak bangsa menjadi manusia bekerja (mengutip ungkapan Jakob Oetama). Bukan manusia pengejar status sehingga apapun dihalalkan asal dapat ijazah dan angka 8 atau 9. Proses mendapat angka itu tak pernah menjadi perhatian. Ya, memang sangat memilukan ketika guru sendiri memimpin anak murid untuk menyurangi ujian!

Tak heran kalau dunia politik kita saat ini seperti tidak berarah, saking banyaknya masalah yang erat hubungannya dengan hilangnya budaya kerja, sportivitas, dan etika. Laporan tentang banyaknya kepala daerah yang ‘bermasalah’ dengan hukum, laporan dari Jawa Barat tentang masyarakat yang memilih dalam pilkada maupun pemilu dengan alasan uang — catatannya adalah bahwa fenomena ini sesungguhnya sudah merata —

Suap-menyuap di DPR/D, anggota Dewan bekerja setengah hati dan setengah tidur sudah bukan kabar lagi karena jelas terlihat di televisi dan koran. Penulis jadi ingat, tahun 80-an pernah dimarahi Bapak sendiri gara-gara menyanyikan lagu Wakil Rakyat-nya Iwan Fals yang menuturkan tidurnya para wakil kita! Sekarang, kalau Bapak masih hidup pasti yakin kalau tidurnya anggota Dewan bukanlah isapan jempol. Jangankan Dewan, Gubernur saja ngantuk mendengarkan pengarahan Presiden.

Jadi tugas pendidikan berikutnya adalah menghapuskan ideologi materialistis dari masyarakat. Menyimak uraian Dr Daniel Dakhidae dalam majalah Prisma baru edisi awal, mengungkapkan bahwa pemilu tahun 1955 diikuti oleh segenap masyarakat seperti layaknya sebuah peristiwa religius. Orang memilih partai adalah dengan semangat dan pertimbangan akal pikir, bukan karena siapa yang telah memberi seperak dua perak!

Bisakah pendidikan melakukan tugas tersebut? Sangat bisa. Asal pendidikan dikerjakan dengan semangat yang benar. Tidak menutup-nutupi kesalahan dengan berdalih-dalih. Misalnya mengedarkan buku biografi pribadi di sekolah-sekolah dianggap sebagai suatu yang sesuai dengan kurikulum. Tokoh yang ditulis bisa jadi beralasan tidak tahu , tetapi jika tahu tetapi diam artinya sami mawon.

Berita bagus hari ini adalah masih ada gerakan pendidikan yang menggugah seperti Gerakan Indonesia Mengajar. Semoga banyak lagi prakarsa yang membuat 50% masalah bangsa ini terselesaikan.***

2 thoughts on “Pendidikan

  1. vote aktual mas.
    sulitnya berbuat jujur dinegeri ini, akhir2 kemarin kita sempat dicengangkan dengan tragedi nyontek massal yang ada di surabaya. sebuah keluarga mendapat sanksi sosial di usir gara2 melaporkan kasus tersebut. betapa ironisnya orang berbuat jujur kok malah hancur.
    salam hangat untuk pendidikan yang bersih dan sehat!!!

    • Betul mas, ini pelajaran berharga. Untungnya mereka menerima kembali keluarga itu. Melihat di TV warga yang histeris karena cucunya termasuk yang dicap nyontek … menunjukkan bagaimana permisivitas kita terhadap hal-hal semacam itu. Proses seharusnya lebih dahulu daripada hasil Sama juga dengan pertanyaan “sulit” Pak Arif Rahman pada ibu-bu suatu saat: “Pilih mana suami jujur atau suami kaya?” Mereka menjawab, “Dua-duanya.” Potret pelarian dari kenyataan untuk keengganan memilih “jujur” atau takut dianggap “munafik” karena tak memilih “kaya'” Bukannya uang tak penting, tetapi dahulukan prosesnya, itu inti maksudnya, mungkin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s