MEA dan Mestakung


Tahun 2016 esok hari, bersamaan dengan itu Masyarakat Ekonmi Asean dimulai!

Hampir semua suara yang muncul dipicu genderang dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA} di Indonesia bernada pesimis. Inisiatif yang dalam bahasa Inggris disebut ASEAN Economic Community ini disikapi pro dan kontra.

Pro: konon MEA akan membuka pasar yang lebih besar dan memberi kesempatan bagi 600 juta orang di wilayah ini. Kontra: Indonesia belum siap berkompetisi dengan negara ASEAN lain.

Tingkat pendidikan kita rendah.

Daya saing produk dan pabrik di Indonesia masih kalah. Etos kerja masyarakat katanya belum siap, dst.

Lalu tidak adakah pandang lain yang lebih positif dari MEA ini?

Mestakung
Saya jadi ingat semboyan Prof. Yohanes Surya ini: Mestakung. Semesta mendukung.

Intinya, pada kondisi kritis, molekul-molekul mengatur diri menyesuaikan untuk menghadapi situasi.

Contohnya, pasir yang di curahkan akan mengatur diri membentuk kerucut. Orang yang dikejar anjing, tiba-tiba mampu melompati pagar setinggi dua meter.

MEA yang kita pandang sebagai momok, seharusnya mejadi pemicu keadaan kritis agar kita bekerja lebih keras, dan akhirnya Mestakung!***

Iklan

Presentasi Keren Dengan PREZI


presentasi Membosankan

Melakukan presentasi di jaman sekarang sudah jamak mempergunakan aplikasi komputer seperti Power Point yang amat sangat populer itu. Meskipun dikenal pula aplikasi semisal Keynote yang menjadi standar platform Mac (Apple), atau Flash yang lebih rumit.

Penampilan PowerPoint yang ‘begitu-begitu saja’ semakin mendorong orang untuk mencari aplikasi presentasi yang lebih keren. Gaya presentasi Steve Jobs banyak mengilhami orang tentang bagaimana menjual gagasan melalui tayangan presentasi yang baik. Memang, PowerPoint sudah mencukupi untuk berbagai kebutuhan presentasi, apalagi kalau dibanding jaman masih menggunakan Overhead Projector! Waduh, jadul abis ya?
Baca lebih lanjut

Menjadi Astronom atau Astronot?


Dunia ini benar-benar penuh pilihan. Menjadi pengusaha atau wirausaha, dalam berbagai skalanya juga sebuah pilihan. Saat ini arus menjadi pengusaha semakin kuat, terlihat dari ramainya bisnis online, ribuan gerai yang bermunculan, banjirnya para motivator dan peserta seminar motivasi serta gencarnya pembinaan UKM oleh pemerintah maupun swasta lewat program PKBL maupun CSR.

Lompatan menjadi seorang pengusaha dari status orang gajian atau jenis pekerjaan profesional lain banyak modusnya. Ada yang menunggu pensiun atau mempercepatnya menjadi pensiun dini, ada yang kepepet karena terkena rasionalisasi dari pekerjaan kemudian beralih menjadi wirausahawan, ada yang memang memilih keluar dari pekerjaan dan lain-lain. Berbeda dengan yang memang sudah menancapkan kuat-kuat niat untuk menjadi wirausaha dari sejak awal karirnya, para pelaku alih profesi ini seringkali gamang saat berada pada tahap penyesuaian dan pembulatan tekad.

Baca lebih lanjut

Bisma Center dan Dua Mazhab ‘Menjadi Kaya’


Apa yang dicari manusia dalam hidup? Ini adalah pertanyaan filosofis tertua yang menggerakkan perbincangan mengenai hakikat manusia sejak jaman dulu. Hingga muncullah idiom-idiom yang menggambarkan bagaimana seharusnya manusia memanfaatkan waktu hidupnya.

Horatius yang hidup pada 8 Desember 65 SM – 27 November 8 SM terkenal dengan Carpe Diem atau Seize The Day atau raihlah hari ini. Ada idiom ‘Waktu adalah Uang’ atau ‘Time is Money’ yang mengandaikan bahwa hidup harus diisi dengan mencari uang.

Mengisi hidup dengan mencari kekayaan membuat manusia berpotensi meninggalkan etika dalam berusaha. Akhirnya kesuksesan diukur semata-mata dengan berapa banyak uang yang dipegang, tidak peduli bagaimana uang itu didapat.

Baca lebih lanjut

Lanjutan Berbalas Pantun Adobe dan Apple


Iklan Adobe di WSJ. Babak baru peperangan Apple vs Adobe, kata Guardian.Hari ini (15/5) saya lihat di Wall Street Journal Asia (dan sangat mungkin di media lain) termuat sebuah iklan yang sangat menarik. Menarik karena ukurannya yang besar: 1 halaman penuh. Menarik karena headline nya adalah : WE gambar jantung warna merah APPLE. Menarik karena logo di akhir iklan adalah Adobe!

Menarik, karena saat ini suhu hubungan dua ikon dunia komputer grafis itu sedang panas. Bahkan kegerahan itu terasa juga sampai di sini. Offcourse. Baca saja di Kaskus, begitu banyak komen tentang fenomena rivalitas itu. Pro, Kontra biasa-biasa saja dan yang tak begitu peduli.

Baca lebih lanjut

Komunikasi Bisnis Apple dan Flash


iPad: diganjal inkompatibilitas dengan Flash
Sebagai awam gadget, tulisan di sebuah majalah PC beberapa waktu lalu mengenai deretan produk Apple seperti iPad, iPhone dan iPod yang diramalkan bakal menemui kesulitan di pasar karena tidak kompatibel dengan aplikasi Flash, adalah sesuatu yang biasa. Biasa, mungkin karena sebagai pengguna teknologi untuk ‘bekerja’ lebih dari ‘untuk bersenang-senang’ saya agak berjarak dengan aplikasi pemutar video apalagi game. Terutama game. Saya sadar hubungan flash dan pemutar video, sejenak sebelum saya menulis posting-an ini. 🙂

Ipod, iPhone dan iPad adalah alat-alat atau devices yang memposisikan dirinya sebagai gadget berjalan atau mobile. Seperti halnya smartphone lain dan blackberry yang juga menjadi ikon era mobile sekarang ini. Tetapi yang menarik bagi saya adalah kenyataan bahwa ketiadaan aplikasi Flash dalam ketiga gadget keluaran Apple tersebut bukanlah semata-mata keisengan, keangkuhan apalagi ketidaksengajaan.

Baca lebih lanjut

Batavia Air vs (Majalah) Tempo!


Tanggal 23 Oktober yang lalu dalam sebuah perjalanan, tepatnya di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin saya membeli majalah Tempo edisi terakhir minggu itu dengan tajuk “Bisa-bisa Kita Tak Bersama.”

Ada dua hal yang menarik. Pertama, didalamnya terdapat laporan ringan tentang perjalanan mereka 10 tahun terakhir sejak 1998 setelah dilarang terbit Suharto pada tahun 1993. Kedua, bonus poster bergambar sampul-sampul majalah itu yang disusun sedemikian rupa menjadikannya menantang untuk dipigura.

Baca lebih lanjut