Internal Communications


icon_internal communications-01

Internal Communications tak berhenti pada membangun pipa melainkan memastikan sirkulasi air ide diantara individu-individu, kelompok dan fungsi-fungsi dalam sebuah organisasi.

Seperti setiap misi apapun dalam organisasi atau perusahaan, berpikir dari akhir adalah sesuatu yang akan membuat kegiatan termasuk Internal Communications ini efektif. Apa tujuan akhir dari proses ini? Jawabannya bisa memfokuskan semua aktivitas kepada satu tujuan. Evaluasi juga akan mudah dilakukan.

Baca lebih lanjut

Presentasi Keren Dengan PREZI


presentasi Membosankan

Melakukan presentasi di jaman sekarang sudah jamak mempergunakan aplikasi komputer seperti Power Point yang amat sangat populer itu. Meskipun dikenal pula aplikasi semisal Keynote yang menjadi standar platform Mac (Apple), atau Flash yang lebih rumit.

Penampilan PowerPoint yang ‘begitu-begitu saja’ semakin mendorong orang untuk mencari aplikasi presentasi yang lebih keren. Gaya presentasi Steve Jobs banyak mengilhami orang tentang bagaimana menjual gagasan melalui tayangan presentasi yang baik. Memang, PowerPoint sudah mencukupi untuk berbagai kebutuhan presentasi, apalagi kalau dibanding jaman masih menggunakan Overhead Projector! Waduh, jadul abis ya?
Baca lebih lanjut

Malaysia Lagi


upin & ipin
Sebuah ikon Malaysia yang lain.
Sejarah bangsa bertetangga mengapa selalu menampilkan kisah yang serupa: ketegangan? Hubungan antar budayanya juga saling mirip satu sama lain. Memang ada yang sebatas ketegangan kultural semacam Belanda – Belgia atau Kanada  – Amerika.  Orang Belanda dalam tanda petik kesel kalau ada orang Belgia yang mengaku-ngaku Belanda. Orang Kanada tidak mau dianggap Amerika mereka mencitrakan dirinya sebagai pecinta damai bukan sebaliknya.

Sampai kepada ketegangan militer yang mengenaskan, semisal India – Pakistan yang sejak jaman Gandhi – Nehru, Zia Ulhaq. Atau yang selalu bertensi hangat hingga panas semacam Korea Utara- Selatan, Jepang – Cina, Laos – Thailand, Cina – Taiwan dan kita pasti tahu: Indonesia – Malaysia.
Baca lebih lanjut

Mengelola Penerbitan (4): Format Penerbitan: Riset vs Akal Sehat


Sebelum jauh, saya sekali lagi tergoda untuk menyinggung pertanyaan “apa masih relevan bicara penerbitan di era digital dan touch screen seperti sekarang ini?

Sampai saat ini orang masih membaca terbitan seperti koran, buku konvensional, tabloid, majalah tertentu disamping ngeblog, googling, ng-e-book dst. Juga lihatlah lapak koran sekarang marak lagi dengan tabloid baru yang semakin segmented.

Para praktisi PR juga masih mengandalkan media tercetak sebagai alat komunikasi mereka. Sinergi media cetak dan internet dan dunia digital menghasilkan awareness yang tinggi terhadap media, meskipun memang ada pengaruh terhadap penurunan tiras. Jika kita bisa membuat isi sebuah media dengan PAS maka media cetak tetap punya pasarnya. Lihat saja Majalah Rolling Stone, National Geographic, Tempo, Kompas, Pos Kota, Koran-koran daerah yang tetap berkibar, media dakwah, media pertanian, tabloid kuliner, tabloid artis, media otomotif, olah raga, rumah dan komputer. Semuanya mengejar segmen tertentu dengan bahasan spesifik yang menarik, sehingga media cetak mereka tetap disukai.

Baca lebih lanjut

Mengelola Penerbitan (3): Perlunya Sebuah Tim Kerja


Mengapa tidak Anda kerjakan seorang diri saja?

Mengapa anda harus mengumpulkan sebuah Tim? (Sekalipun Anda memiliki kemampuan reportase karena pernah menjadi wartawan majalah kampus, menulis karena tulisan Anda pernah dimuat di surat kabar, bahkan mendisain sebuah media cetak karena pada waktu senggang Anda kursus desain grafis?) Media cetak adalah sebuah bangunan yang penuh dengan detil. Betul, seperti sebuah mozaik handycraft! Jadi, Anda seorang diri tentu tidak mungkin membuatnya, apalagi ada makhluk mengerikan dalam sebuah penerbitan, dia adalah hantu Tenggat! Ya, tenggat atau dead-line menjadi batas Anda memahat kata-kata menjadi ukiran informasi yang indah.

Ingat, bahkan Bandung Bondowoso dan Sangkuriang gagal menepati tenggat yang ditentukan oleh Lara Jonggrang dan Dayang Sumbi masalahnya adalah satu: dia bekerja sendiri! (Tentu saja ini adalah amsal humor, yang sungguhan akan Anda dapati di paragraf-paragraf berikut)

Baca lebih lanjut

Lanjutan Berbalas Pantun Adobe dan Apple


Iklan Adobe di WSJ. Babak baru peperangan Apple vs Adobe, kata Guardian.Hari ini (15/5) saya lihat di Wall Street Journal Asia (dan sangat mungkin di media lain) termuat sebuah iklan yang sangat menarik. Menarik karena ukurannya yang besar: 1 halaman penuh. Menarik karena headline nya adalah : WE gambar jantung warna merah APPLE. Menarik karena logo di akhir iklan adalah Adobe!

Menarik, karena saat ini suhu hubungan dua ikon dunia komputer grafis itu sedang panas. Bahkan kegerahan itu terasa juga sampai di sini. Offcourse. Baca saja di Kaskus, begitu banyak komen tentang fenomena rivalitas itu. Pro, Kontra biasa-biasa saja dan yang tak begitu peduli.

Baca lebih lanjut

Komunikasi Bisnis Apple dan Flash


iPad: diganjal inkompatibilitas dengan Flash
Sebagai awam gadget, tulisan di sebuah majalah PC beberapa waktu lalu mengenai deretan produk Apple seperti iPad, iPhone dan iPod yang diramalkan bakal menemui kesulitan di pasar karena tidak kompatibel dengan aplikasi Flash, adalah sesuatu yang biasa. Biasa, mungkin karena sebagai pengguna teknologi untuk ‘bekerja’ lebih dari ‘untuk bersenang-senang’ saya agak berjarak dengan aplikasi pemutar video apalagi game. Terutama game. Saya sadar hubungan flash dan pemutar video, sejenak sebelum saya menulis posting-an ini. 🙂

Ipod, iPhone dan iPad adalah alat-alat atau devices yang memposisikan dirinya sebagai gadget berjalan atau mobile. Seperti halnya smartphone lain dan blackberry yang juga menjadi ikon era mobile sekarang ini. Tetapi yang menarik bagi saya adalah kenyataan bahwa ketiadaan aplikasi Flash dalam ketiga gadget keluaran Apple tersebut bukanlah semata-mata keisengan, keangkuhan apalagi ketidaksengajaan.

Baca lebih lanjut